GW: Rakhmayanti Dewi
*
“Jadi Grandpa tinggal di rumah kita sekarang?”
Gadis itu duduk berjongkok di dekat pintu masuk asrama Sunrise, membentuk salju yang terhampar di halaman menjadi bulatan-bulatan kecil. Sekilas memang ia terlihat tengah berbicara sendiri, namun ia tidak gila. Di balik topi wol merahnya, terselip handsfree yang menempel di telinga kanannya.
“Bagaimana dengan Grannie?” Gadis itu—Valencia Coffin—berucap lagi setelah di seberang sana, Julie—kakak perempuannya—menjawab pertanyaan sebelumnya dengan kalimat, ‘Ya, baru datang jam 3 sore tadi.’
“Grannie masih tinggal bersama Uncle Tom.”
“Kupikir Grandpa dan Grannie akan selalu bersama kemanapun kaki melangkah. Seperti kisah dalam sinetron.”
Val terkikik bersamaan dengan ucapan ‘huss!’ dari Julie. Memang agak rumit menjelaskan hubungan kakek-nenek dari pihak ayahnya. Tapi jika mau dirunut, mungkin akan seperti ini.
Grandpa Jo dan Grandma Lana menikah, kemudian lahirlah ayah Val—atau Jane. Setelah itu Grandpa dan Grandma bercerai. Sementara Grandpa Jo menikah lagi dengan Grannie—Grandma Annie—yang juga pernah gagal di pernikahan sebelumnya dan sudah memiliki seorang anak—Uncle Tom, Grandma Lana juga menikah lagi dengan Grandpa Will. Grandpa Will sudah meninggal lebih dari 7 tahun lalu dan Grandma Lana masih terlihat baik-baik saja sampai dengan hari ini meski sendirian.
Dan tentang Grandpa Jo yang tengah dibicarakan Val dan Julie lewat sambungan telepon, beberapa bulan belakangan ayah kandung Pap itu memang mulai menunjukkan tanda-tanda kerentaannya. Di usia yang memasuki delapan puluh tujuh tahun, Grandpa berkali-kali keluar masuk rumah sakit. Dan karena Grannie sendiri juga sudah mulai pikun dan tidak bisa mengurus dirinya sendiri, maka para kerabatlah yang akhirnya kemudian menawarkan diri untuk merawat Grandpa. Pap juga sempat menawari Grandpa untuk tinggal bersamanya. Tapi Grandpa menolak. Dia lebih memilih untuk tinggal dengan Aunt Angeli—saudara sepupu Pap.
“Grandpa sedang apa sekarang, Juls?”
“Tidur. Tadi baru makan, disuapi Mum. Damai sekali tidurnya, bahkan suara dengkurannya pun terdengar damai.”
Val ikut terkekeh kala Julie terkekeh di akhir kalimatnya. Syukurlah. Val sering mendengar dari Aunt Angeli ketika Grandpa masih tinggal di rumahnya, kakek tua itu menolak makan dan hanya mengkonsumsi kue-kue ringan yang kurang asupan karbohidrat, protein, vitamin dan segala macamnya. Belum lagi, setiap kali Grandpa mencoba tidur, dia akan terbatuk hebat yang terasa sakit sampai ke dadanya. Kasihan sekali.
“Kau jaga dirimu baik-baik disana. Jangan lupa pakai mantel tebal agar tidak kedinginan dan jangan terlalu sering berkeliaran di luar.” Bagai seorang kakak yang baik, Julie memperingatkan.
“Ya, ya, ya, baiklah, aku mengerti. Astaga, Juls, kau terdengar seperti Mark.”
“Yang tadi itu memang pesan dari Mark kok.”
Sementara Val dan Julie saling melempar tawa sebelum menyudahi obrolan mereka, dari kejauhan terlihat seseorang yang melangkah cepat-cepat menuju asrama Sunrise. Seseorang yang menjanjikan akan membawa sushi sebagai menu makan malam Val sepulangnya ia ‘mengamen’ di taman kota Tesshu. Seseorang bernama
Kaito Kid.
*
Seperti biasa, pagi dimulai dengan kecekatan Keita menguasai kamar mandi pertama kali. Val terpaksa menunggu giliran untuk menggunakan kamar mandi satu-satunya di kamar nomor tiga belas dengan tetap bergelung di balik selimut tebalnya. Tidak berniat untuk tidur lagi karena kantuknya sudah lama hilang akibat duet cempreng suara Keita dan alarm yang membangunkannya.
Sembari mencibir ke arah pintu kamar mandi saat terdengar suara Keita bernyanyi sumbang, Val mengaktifkan ponselnya yang sengaja dimatikan semalam. Tidak berapa lama kemudian beberapa pesan yang tertunda mulai bergantian mengisi kotak masuk aplikasi pesannya. Pesan dari Kiddo, Daniel—teman magangnya, Keiko—seorang kenalannya di Tesshu, dan juga dua buah pesan dari operator selulernya. Mengabarkan bahwa nomor Julie dan Mark menghubunginya semalam.
Val baru akan melakukan panggilan ke nomor Julie saat tiba-tiba ponselnya berdering. Julie calling.
“Good morning!” sapa Val ceria.
”Jane…”
Ada yang aneh. Jelas ada yang aneh pada suara Julie pagi ini dibandingkan semalam. Semalam suara Julie begitu renyah, begitu ceria, begitu bersemangat dan sekarang… kebalikannya.
“Juls, ada apa?” tanya Val gusar.
“Jane… Grandpa… Grandpa Jo…”
“Ya?”
“Grandpa…” Julie terisak. Di sambungan telepon, kakak perempuan Valencia Coffin—atau Jane Anastasia Hummington—itu terisak tanpa menyelesaikan kata-katanya. Membuat Val diselimuti perasaan gelisah.
“Julie, katakan padaku! Ada apa?” desak Val lagi.
“Jane, dengarkan aku dan jangan panik.” Tiba-tiba suara berat Mark—kakak laki-lakinya—menggantikan isakan Julie.
Val mengangguk—tidak sadar bahwa kakaknya tidak bisa melihat bahasa tubuhnya—dan diam-diam menggigit bibir. Detakan jantung yang menggila di dalam dadanya seolah menyetujui firasat bahwa Val akan mendengar kabar buruk.
“Dengarkan aku, Jane, don’t be panic and stay focus. Grandpa Jo meninggal. Kau pulanglah hari ini juga. Berikan aku nomor telepon akademimu, aku akan mengurus ijinmu.”
Val membelalakkan matanya. Grandpa Jo. Kakek yang baru semalam menjadi topic perbincangan antara dirinya dan Julie. Kakek tua yang suka sekali bercerita, berbicara tentang banyak hal. Kakek yang diyakininya menularkan gen kecerewetan dalam dirinya.
“Jane, you hear me?”
“Y- yes, Mark.”
“Focus, Jane. Bawa barang seperlunya. Kabari aku jika sudah sampai bandara. Aku akan menjemputmu. Kau mengerti?”
“Ya.”
“Hati-hati, dear.”
Val mematung. Membiarkan ponsel putihnya terjun bebas ke atas tempat tidur sesaat setelah Mark memutuskan sambungan. Grandpa… Grandpa Jo…
“Val, aku sudah selesai.”
Suara Keita menyadarkan Val. Gadis itu bergerak tergesa untuk menggosok gigi dan mencuci muka. Ia mengambil ransel dari dalam lemari dan memasukkan beberapa barang yang dirasanya perlu dibawa.
“Val? Mau kemana kau?” Keita bertanya penasaran pada Val yang bergerak kesana kemari dengan wajah linglung dan tatapan kosong.
“Aku harus pulang, Kei. Sekarang.”
“Pulang? Ke London?”
“Ya.”
“Ada apa? Apa terjadi sesuatu?”
“My grandpa passed away.”
“Oh dear, I’m sorry to hear that, Val.”
“I have to go now, Kei.”
“Be careful, Val.”
Val mengangguk setelah melepas pelukan Keita. Ia memakai mantel dan syalnya sambil berjalan—sedikit berlari—ke arah pintu asrama. Ia harus pergi ke bandara secepatnya dan mengejar penerbangan ke London. Secepatnya.
*
Val bergabung bersama keluarganya untuk menyambut para pelayat yang ingin memberikan penghormatan terakhir untuk kakeknya. Para kerabatnya terlihat menitikkan air mata, terutama Aunt Angeli. Dia menangis di pelukan suaminya. Grannie dipapah David—anak Uncle Tom—menuju peti mati Grandpa. Tangannya dituntun untuk menyentuh wajah pucat Grandpa untuk terakhir kali.
Gadis itu memejamkan mata. Teringat penuturan Mark saat keduanya dalam perjalanan dari bandara menuju rumah.
“Setelah Julie menelponmu semalam, Mum berteriak dari kamar Grandpa memanggil Pap. Dia berkata untuk mengecek Grandpa. Grandpa sudah pucat sekali waktu itu, Jane. Badannya juga dingin.
Tapi Pap bilang, Grandpa masih hidup. Masih terasa denyut nadinya walaupun lemah sekali. Pap menyuruhku menelpon dokter keluarga kita. Sayangnya, dokter Arthur baru bisa datang tengah malam. Ia bertugas di rumah sakit dan ada serombongan pasien kecelakaan yang harus segera ditangani.
Mum tidak mau meninggalkan kamar Grandpa. Dia memastikan untuk menemani Grandpa. Kami semua berkumpul di kamar Grandpa sampai dokter Arthur datang. Dia mengecek denyut nadi Grandpa. Di tangan masih ada, tapi di lehernya, sudah tidak terasa sama sekali.
Dan tepat pukul tiga dini hari, Grandpa meninggalkan kita semua, Jane.”
Si bungsu keluarga Hummington itu meloloskan setitik air mata saat kelopaknya kembali membuka yang cepat-cepat dihapusnya. Val berusaha untuk tetap tegar. Seperti Pap yang menahan air matanya. Seperti Mum yang menyambut para tamu yang datang dengan keramahan. Seperti Mark dan Julie yang menyembunyikan kesedihan mereka.
Satu persatu tangkai demi tangkai bunga mawar putih di letakkan di samping peti Grandpa sebagai tanda berbela sungkawa. Val berdiri disana, di dekat bunga-bunga yang bertumpuk semakin banyak. Val mengucapkan terimakasih kepada mereka yang berkenan untuk hadir. Untuk ikut mengantarkan Grandpa ke tempat peristirahatannya yang terakhir.
Termasuk kepada orang itu. orang yang membuat Val terbelalak dan menahan napasnya selama beberapa detik. Orang yang memakai setelan hitam-hitam yang terlihat familiar. Orang yang meskipun ia menanggalkan kacamatanya, Val tetap mengenalinya. Orang yang pergi dari akademi diam-diam dan meninggalkan kehebohan juga banyak pertanyaan tak terjawab. Orang itu… Sir Chandra.
**
*
“Jadi Grandpa tinggal di rumah kita sekarang?”
Gadis itu duduk berjongkok di dekat pintu masuk asrama Sunrise, membentuk salju yang terhampar di halaman menjadi bulatan-bulatan kecil. Sekilas memang ia terlihat tengah berbicara sendiri, namun ia tidak gila. Di balik topi wol merahnya, terselip handsfree yang menempel di telinga kanannya.
“Bagaimana dengan Grannie?” Gadis itu—Valencia Coffin—berucap lagi setelah di seberang sana, Julie—kakak perempuannya—menjawab pertanyaan sebelumnya dengan kalimat, ‘Ya, baru datang jam 3 sore tadi.’
“Grannie masih tinggal bersama Uncle Tom.”
“Kupikir Grandpa dan Grannie akan selalu bersama kemanapun kaki melangkah. Seperti kisah dalam sinetron.”
Val terkikik bersamaan dengan ucapan ‘huss!’ dari Julie. Memang agak rumit menjelaskan hubungan kakek-nenek dari pihak ayahnya. Tapi jika mau dirunut, mungkin akan seperti ini.
Grandpa Jo dan Grandma Lana menikah, kemudian lahirlah ayah Val—atau Jane. Setelah itu Grandpa dan Grandma bercerai. Sementara Grandpa Jo menikah lagi dengan Grannie—Grandma Annie—yang juga pernah gagal di pernikahan sebelumnya dan sudah memiliki seorang anak—Uncle Tom, Grandma Lana juga menikah lagi dengan Grandpa Will. Grandpa Will sudah meninggal lebih dari 7 tahun lalu dan Grandma Lana masih terlihat baik-baik saja sampai dengan hari ini meski sendirian.
Dan tentang Grandpa Jo yang tengah dibicarakan Val dan Julie lewat sambungan telepon, beberapa bulan belakangan ayah kandung Pap itu memang mulai menunjukkan tanda-tanda kerentaannya. Di usia yang memasuki delapan puluh tujuh tahun, Grandpa berkali-kali keluar masuk rumah sakit. Dan karena Grannie sendiri juga sudah mulai pikun dan tidak bisa mengurus dirinya sendiri, maka para kerabatlah yang akhirnya kemudian menawarkan diri untuk merawat Grandpa. Pap juga sempat menawari Grandpa untuk tinggal bersamanya. Tapi Grandpa menolak. Dia lebih memilih untuk tinggal dengan Aunt Angeli—saudara sepupu Pap.
“Grandpa sedang apa sekarang, Juls?”
“Tidur. Tadi baru makan, disuapi Mum. Damai sekali tidurnya, bahkan suara dengkurannya pun terdengar damai.”
Val ikut terkekeh kala Julie terkekeh di akhir kalimatnya. Syukurlah. Val sering mendengar dari Aunt Angeli ketika Grandpa masih tinggal di rumahnya, kakek tua itu menolak makan dan hanya mengkonsumsi kue-kue ringan yang kurang asupan karbohidrat, protein, vitamin dan segala macamnya. Belum lagi, setiap kali Grandpa mencoba tidur, dia akan terbatuk hebat yang terasa sakit sampai ke dadanya. Kasihan sekali.
“Kau jaga dirimu baik-baik disana. Jangan lupa pakai mantel tebal agar tidak kedinginan dan jangan terlalu sering berkeliaran di luar.” Bagai seorang kakak yang baik, Julie memperingatkan.
“Ya, ya, ya, baiklah, aku mengerti. Astaga, Juls, kau terdengar seperti Mark.”
“Yang tadi itu memang pesan dari Mark kok.”
Sementara Val dan Julie saling melempar tawa sebelum menyudahi obrolan mereka, dari kejauhan terlihat seseorang yang melangkah cepat-cepat menuju asrama Sunrise. Seseorang yang menjanjikan akan membawa sushi sebagai menu makan malam Val sepulangnya ia ‘mengamen’ di taman kota Tesshu. Seseorang bernama
Kaito Kid.
*
Seperti biasa, pagi dimulai dengan kecekatan Keita menguasai kamar mandi pertama kali. Val terpaksa menunggu giliran untuk menggunakan kamar mandi satu-satunya di kamar nomor tiga belas dengan tetap bergelung di balik selimut tebalnya. Tidak berniat untuk tidur lagi karena kantuknya sudah lama hilang akibat duet cempreng suara Keita dan alarm yang membangunkannya.
Sembari mencibir ke arah pintu kamar mandi saat terdengar suara Keita bernyanyi sumbang, Val mengaktifkan ponselnya yang sengaja dimatikan semalam. Tidak berapa lama kemudian beberapa pesan yang tertunda mulai bergantian mengisi kotak masuk aplikasi pesannya. Pesan dari Kiddo, Daniel—teman magangnya, Keiko—seorang kenalannya di Tesshu, dan juga dua buah pesan dari operator selulernya. Mengabarkan bahwa nomor Julie dan Mark menghubunginya semalam.
Val baru akan melakukan panggilan ke nomor Julie saat tiba-tiba ponselnya berdering. Julie calling.
“Good morning!” sapa Val ceria.
”Jane…”
Ada yang aneh. Jelas ada yang aneh pada suara Julie pagi ini dibandingkan semalam. Semalam suara Julie begitu renyah, begitu ceria, begitu bersemangat dan sekarang… kebalikannya.
“Juls, ada apa?” tanya Val gusar.
“Jane… Grandpa… Grandpa Jo…”
“Ya?”
“Grandpa…” Julie terisak. Di sambungan telepon, kakak perempuan Valencia Coffin—atau Jane Anastasia Hummington—itu terisak tanpa menyelesaikan kata-katanya. Membuat Val diselimuti perasaan gelisah.
“Julie, katakan padaku! Ada apa?” desak Val lagi.
“Jane, dengarkan aku dan jangan panik.” Tiba-tiba suara berat Mark—kakak laki-lakinya—menggantikan isakan Julie.
Val mengangguk—tidak sadar bahwa kakaknya tidak bisa melihat bahasa tubuhnya—dan diam-diam menggigit bibir. Detakan jantung yang menggila di dalam dadanya seolah menyetujui firasat bahwa Val akan mendengar kabar buruk.
“Dengarkan aku, Jane, don’t be panic and stay focus. Grandpa Jo meninggal. Kau pulanglah hari ini juga. Berikan aku nomor telepon akademimu, aku akan mengurus ijinmu.”
Val membelalakkan matanya. Grandpa Jo. Kakek yang baru semalam menjadi topic perbincangan antara dirinya dan Julie. Kakek tua yang suka sekali bercerita, berbicara tentang banyak hal. Kakek yang diyakininya menularkan gen kecerewetan dalam dirinya.
“Jane, you hear me?”
“Y- yes, Mark.”
“Focus, Jane. Bawa barang seperlunya. Kabari aku jika sudah sampai bandara. Aku akan menjemputmu. Kau mengerti?”
“Ya.”
“Hati-hati, dear.”
Val mematung. Membiarkan ponsel putihnya terjun bebas ke atas tempat tidur sesaat setelah Mark memutuskan sambungan. Grandpa… Grandpa Jo…
“Val, aku sudah selesai.”
Suara Keita menyadarkan Val. Gadis itu bergerak tergesa untuk menggosok gigi dan mencuci muka. Ia mengambil ransel dari dalam lemari dan memasukkan beberapa barang yang dirasanya perlu dibawa.
“Val? Mau kemana kau?” Keita bertanya penasaran pada Val yang bergerak kesana kemari dengan wajah linglung dan tatapan kosong.
“Aku harus pulang, Kei. Sekarang.”
“Pulang? Ke London?”
“Ya.”
“Ada apa? Apa terjadi sesuatu?”
“My grandpa passed away.”
“Oh dear, I’m sorry to hear that, Val.”
“I have to go now, Kei.”
“Be careful, Val.”
Val mengangguk setelah melepas pelukan Keita. Ia memakai mantel dan syalnya sambil berjalan—sedikit berlari—ke arah pintu asrama. Ia harus pergi ke bandara secepatnya dan mengejar penerbangan ke London. Secepatnya.
*
Val bergabung bersama keluarganya untuk menyambut para pelayat yang ingin memberikan penghormatan terakhir untuk kakeknya. Para kerabatnya terlihat menitikkan air mata, terutama Aunt Angeli. Dia menangis di pelukan suaminya. Grannie dipapah David—anak Uncle Tom—menuju peti mati Grandpa. Tangannya dituntun untuk menyentuh wajah pucat Grandpa untuk terakhir kali.
Gadis itu memejamkan mata. Teringat penuturan Mark saat keduanya dalam perjalanan dari bandara menuju rumah.
“Setelah Julie menelponmu semalam, Mum berteriak dari kamar Grandpa memanggil Pap. Dia berkata untuk mengecek Grandpa. Grandpa sudah pucat sekali waktu itu, Jane. Badannya juga dingin.
Tapi Pap bilang, Grandpa masih hidup. Masih terasa denyut nadinya walaupun lemah sekali. Pap menyuruhku menelpon dokter keluarga kita. Sayangnya, dokter Arthur baru bisa datang tengah malam. Ia bertugas di rumah sakit dan ada serombongan pasien kecelakaan yang harus segera ditangani.
Mum tidak mau meninggalkan kamar Grandpa. Dia memastikan untuk menemani Grandpa. Kami semua berkumpul di kamar Grandpa sampai dokter Arthur datang. Dia mengecek denyut nadi Grandpa. Di tangan masih ada, tapi di lehernya, sudah tidak terasa sama sekali.
Dan tepat pukul tiga dini hari, Grandpa meninggalkan kita semua, Jane.”
Si bungsu keluarga Hummington itu meloloskan setitik air mata saat kelopaknya kembali membuka yang cepat-cepat dihapusnya. Val berusaha untuk tetap tegar. Seperti Pap yang menahan air matanya. Seperti Mum yang menyambut para tamu yang datang dengan keramahan. Seperti Mark dan Julie yang menyembunyikan kesedihan mereka.
Satu persatu tangkai demi tangkai bunga mawar putih di letakkan di samping peti Grandpa sebagai tanda berbela sungkawa. Val berdiri disana, di dekat bunga-bunga yang bertumpuk semakin banyak. Val mengucapkan terimakasih kepada mereka yang berkenan untuk hadir. Untuk ikut mengantarkan Grandpa ke tempat peristirahatannya yang terakhir.
Termasuk kepada orang itu. orang yang membuat Val terbelalak dan menahan napasnya selama beberapa detik. Orang yang memakai setelan hitam-hitam yang terlihat familiar. Orang yang meskipun ia menanggalkan kacamatanya, Val tetap mengenalinya. Orang yang pergi dari akademi diam-diam dan meninggalkan kehebohan juga banyak pertanyaan tak terjawab. Orang itu… Sir Chandra.
**
Tidak ada komentar:
Posting Komentar