Kamis, 16 Januari 2014

ValKid—You’ll Be Mine

Note : Kiddo, anggep ini bayaran utang kalah taruhan itu ya, oke?—oke gak oke harus oke :3Ah, aku kasih bonus soundtrack(?)-nya deh, cek WA aja. Jadi, deal ya, utang lunas~ nananana~

**

Tok tok tok.

Kaito Kid mengetuk pintu kamar nomor tiga belas sebelum membukanya dengan mudah seperti kebiasaannya.

“Selamat malam.” Ia menyapa santai Val yang tengah mengaduk gelasnya dengan sendok dan Keita yang tengah serius menghadap laptop—bermain game.

“Ada apa?” tanya Val pada Kid yang berjalan lurus menuju balkon. Gadis itu mengekori Kid sambil meniup-niup isi gelasnya.

“Tidak ada. Hanya berkunjung,” jawab Kid. Ia mendudukkan diri di lantai balkon dan bersandar pada pintu kaca di belakangnya—diikuti Val di sampingnya. “Aku dengar Keita mau pergi berburu, dan aku pikir kau akan bosan jika sendirian di kamar, jadi—yah, begitulah.”

“Baik sekali.” Val dan Keita mendecih berbarengan, membuat keduanya tertawa dari tempat berbeda.

“Apa itu?” Kid menunjuk gelas di tangan Val.

“Hot chocolate. Kau mau? Biar nanti kubuatkan.”

Kid menggeleng. Ia beralih pada gitar yang dibawanya dan mencoba menyetel nadanya.

“Gitar punya siapa?” tanya Val penasaran.

“Ran. Tadi aku berpapasan dengannya di koridor. Dia ingin aku mengeceknya. Dia bilang mungkin ada yang salah dengan gitarnya. Nadanya terdengar fals.”

“Gitarnya atau suara nyanyian Ran yang fals?”

“Mungkin dua-duanya.”

Val dan Kid terkekeh bersamaan. Sementara dari arah dalam, Keita Lyssander—gadis ras vampire itu—terdengar tengah menerima telepon.

“Guys, aku pergi dulu,” pamit Keita sembari mengenakan jaket yang tersampir pada kursi yang didudukinya.

“Berburu? Dengan siapa?” Val menggeser duduknya menghadap Keita yang tengah memeriksa bayangan wajahnya di cermin.

“Seseorang,” jawab Keita. Ia memeriksa saku, memastikan handphone-nya tidak lupa dibawa.

“Ck, sok misterius,” cibir Val. “Kau mau berburu dimana? Di hutan? Di pinggiran kota? Berhati-hatilah. Jangan sembarangan menentukan mangsa. Pilih-pilihlah. Kau tahu kan—“

“Val, kau berisik,” sergah Keita.

Kid terbahak di samping Val. Dia amat setuju dengan kalimat Keita yang terakhir. Val memukul lengan pemuda itu keras sekali, membuat Kid menghentikan kegiatannya mengutak-atik gitar Ran. Mereka saling melotot satu sama lain tanpa suara.

“Kalian baik-baiklah berdua. Jangan bertengkar,” pesan Keita sebelum membuka pintu. “Dan jangan melakukan hal yang iya-iya, nanti aku akan memanggil SatPol PP untuk menggerebek kalian.”

Keita cepat-cepat menghilang di balik pintu sebelum lemparan sandal Val mengenai tubuhnya. Akibat gerakan Keita yang gesit, sandal malang itu mengenai daun pintu dan menciptakan bunyi ‘buk’ yang cukup keras.

Val memperbaiki posisi duduknya seperti semula dan meminum cokelatnya yang mulai menghangat. Kid sama sekali tidak menoleh, ia begitu terfokus pada gitar di tangannya. Selama beberapa menit, tidak ada percakapan di antara mereka. Hanya ada denting gitar yang membaur di tengah kesunyian.

“Apa yang kau lakukan seharian ini?” Kid membuka suara tanpa menoleh.

“Tidak ada.”

“Kau tidak pergi kemana-mana?”

Val mengangguk. “Keita berjaga sepanjang hari. Dia bahkan melarangku mendekati pintu. Benar-benar lebih mengerikan dari bodyguard.”

Val bergidik sementara Kid tersenyum menyeringai.

“Aku yang meminta tolong padanya.”

“Hm?”

“Aku yang meminta tolong padanya untuk menjagamu. Memastikan agar kau tidak pergi kemana-mana.”

“K-kau? Wah.” Ekspresi kaget dan kesal jelas sekali tergambar di wajah Val. “Wah.”

“Kenapa?”

“Harusnya aku yang bertanya. Kenapa?”

“Supaya kau beristirahat.”

“Kenapa?”

“Kau tidak ingat apa yang terjadi padamu kemarin? Kau kelelahan. Kau terlalu memforsir tubuhmu. Kau—“

“Wah, gerimis.”

Val memang ingin sekali memotong kalimat Kid. Dia sedang malas diceramahi. Ah, dia memang selalu malas diceramahi. Anggap saja ini adalah sisi egois dari seorang Valencia Coffin. Enak sekali dia menceramahi orang sementara dirinya tidak pernah mau diceramahi orang lain.

Kid mengulas senyum maklum. Beberapa lama berdekatan dengan gadis ini membuatnya paham akan sifat dan tabiatnya. Meski kadang ia harus selalu mengalah, toh ia tidak keberatan.

“Ayo masuk,” ajak Kid.

“Kenapa?”

“Nanti akan semakin dingin disini.”

“Tidak akan. Lagipula hujannya tidak begitu besar.”

Kedua penghuni asrama Sunrise itu sama-sama melemparkan pandangan ke arah titik-titik air yang jatuh dari ujung atap balkon di luar pagar pembatas. Jarak yang tercipta antara teras dan pagar pembatas membuat mereka tidak khawatir akan kebasahan terciprat air hujan.

“Kalau begitu, ambil selimutmu,” ucap Kid lagi.

“Untuk apa?”

“Sudah kubilang, nanti akan semakin dingin.”

“Tapi aku tidak kedinginan.”

“Ck, Val.”

Val menulikan telinga. Ia bergeming atas ocehan Kid. Gadis itu malah menikmati sensasi yang tercipta dari simfoni hujan.

Kid menyerah. Pemuda itu menggeser gitarnya dan mengambil selimut dari ranjang Val kemudian meletakkannya di punggung gadis manja itu.

“Kiddo, aku—“

“Aku tidak mau mendengar berita kau terkena flu besok.”

Val terdiam. Ia menarik ujung-ujung selimut dan menggenggamnya di depan dada.

“Ngomong-ngomong,” Val menoleh pada Kid yang mendenting-dentingkan senar gitar yang sudah selesai di perbaiki. “Apa yang kau janjikan pada Keita sampai-sampai dia mau dimintai tolong olehmu?”

“Sesuatu,” jawab Kid tanpa menoleh.

“Apa?”

“Pokoknya sesuatu. Ah ya, aku baru belajar lagu baru. Kau mau dengar?”

Val memajukan bibirnya. Jelas sekali Kid berusaha mengalihkan pembicaraan. Dasar. Meski kesal, tak urung kepalanya mengangguk pelan menyetujui tawaran Kid.

“Lagu apa?”

“Dengarkan saja.”

Kid memposisikan kesepuluh jarinya pada senar gitar. Ia mulai memetik nada-nada intro lagu, menciptakan kesan romantis di tengah gerimis yang masih saja turun.

Girl your heart, girl your face is so different from them others
I’ll say, you’re the only one that I’ll adore          

Val tersenyum mendengar awalan lirik lagu yang dinyanyikan Kid. Bolehkah ia berharap akan mendengar sebuah lantunan lagu romantis?

Cos everytime you’re by my side
My blood rushes through my veins and my geeky face blushed so silly yeah, oh yeah

Kid menatap wajah Val lekat-lekat. Bersiap menatap tepat kedua retina Val ketika ia menyanyikan bagian berikutnya.

And I want to make you mine

Oh baby I’ll take you to the sky
Forever you and I, you and I
And we’ll be together till we die
Our love will last forever and forever you’ll be mine, you’ll be mine

Kali ini Val benar-benar menggeser tubuhnya menghadap Kid. Meletakkan tangkupan tangannya di dekat dagu, menikmati lagu.

Girl your smile and your charm lingers always on my mind
I’ll say, you’re the only one that I’ve waited for

And I want you to be mine

 Oh baby I’ll take you to the sky
Forever you and I, you and I
And we’ll be together till we die
Our love will last forever and forever you’ll be mine, you’ll be mine

 And I want you to be mine

And I want you to be mine

Oh baby I’ll take you to the sky
Forever you and I, you and I
And we’ll be together till we die
Our love will last forever and forever you’ll be mine, you’ll be mine
Oh baby I’ll take you to the sky
Forever you and I, you and I
And we’ll be together till we die
Our love will last forever and forever you’ll be mine, you’ll be mine

You’ll be mine

Dan bersama dengan nada-nada klasik yang tercipta lewat tetesan hujan, di balkon kamar nomor tiga belas asrama Sunrise, disaksikan segelas hot chocolate yang sudah mulai dingin, Val dan Kid bertatapan satu sama lain. Lekat.

**
Author: RaDe

Tidak ada komentar:

Posting Komentar