Kamis, 16 Januari 2014

ChanIlll---OOC Version

PUPPY AND RAIN—AND HIM

Gadis itu tengah melihat-lihat bunga yang terpajang di depan salah satu Flora Shop di Salvatore ketika tiba-tiba hujan turun membasahi bumi. Ah, tidak tiba-tiba sebenarnya. Seharian ini mendung betah menggelayuti langit. Maklum, pergantian dari musim panas ke musim gugur. Ia segera bergeser ke bagian dalam toko, berusaha melindungi tubuhnya dari cipratan-cipratan air hujan. Ia berdiri diam disana, mengamati jalanan yang basah dan orang-orang yang berlarian mencari tempat berteduh. Tapi kemudian, ia merasakan ada sesuatu yang berbeda dari hujan yang turun sore ini. Rintikan-rintikan hujan itu terlihat berkilauan dimatanya. Seakan menggodanya untuk menari di bawah hujan.

Tanpa berpikir lebih lama, sang gadis bernama lengkap Illa Augelain itu berlari menuju minimarket di samping Flora Shop tempatnya berteduh tadi. Ia menyambar sebuah payung bening dan langsung membawanya ke kasir. Dengan payung di tangannya, kini ia siap menikmati tamparan-tamparan lembut air hujan pada sisi tubuhnya.
Gadis itu berjalan melewati jalan utama Salvatore. Tersenyum senang sepanjang jalan. Hanya karena hujan, semua terlihat berbeda di matanya. Lebih indah. Lebih menarik. Dan hanya karena sebuah payung, ia merasa aman. Ia merasa terlindungi. Kini ia paham kenapa Sanka Rea—si gadis payung merah, teman seasramanya—suka sekali membawa payung kemana-mana. Meski si gadis berponi rata itu membawanya dengan alasan lain; ia benci sinar matahari.

Illa benar-benar menikmati waktunya. Menikmati sensasi yang dibawa titik-titik air hujan yang menyerang payungnya. Bau tanah yang yang basah, udara yang sejuk dan cipratan-cipratan kecil yang mengenai bagian tubuhnya. Perpaduan sempurna yang dirindukan siapa saja di musim kemarau.
Tapi tiba-tiba gadis berbaju lengan panjang warna hitam itu menghentikan langkah tepat di sebuah belokan. Fokusnya tercuri pada sebuah kardus yang tergeletak begitu saja di pinggir jalan. Seekor anak anjing berbulu putih terlihat menggonggong dan berlarian gelisah di dalamnya—kebasahan. Mengikuti instingnya, Illa berjongkok. Menggeser payungnya untuk melindungi anak anjing itu dan membiarkan dirinya kehujanan.

“Kau kedinginan?” Illa membuka percakapan—monolog. Balas menatap anak anjing yang menatapnya sendu.

“Sebentar.” Illa membuka tas selempangnya. Mengeluarkan sebuah sapu tangan. “Mungkin ini tidak bisa menghangatkanmu, tapi setidaknya ini cukup untuk mengeringkan tubuhmu.”

Dengan penuh ketelatenan, Illa mengusap-usap bulu-bulu si anak anjing yang kebasahan karena hujan. Sesekali ia menggaruk bagian dagu si anjing, membuat hewan lucu itu menggonggong senang.

“Kau dibuang kah? Siapa yang tega membuang anak anjing selucu kau, Puppy? Jika aku bisa, aku ingin sekali membawamu.”

Seolah mengerti apa yang diucapkan Illa, anak anjing itu merespon dengan suara pelan dan menggoyang-goyangkan ekornya.

“Ya ampun, lucu sekali.” Illa menjulurkan tangannya. Mengelus tubuh anak anjing yang tersenyum padanya. “Sayang sekali kami tidak diperbolehkan membawa binatang peliharaan dari luar akademi.”

Gerakan mengelus Illa tiba-tiba terhenti ketika dirasakannya tubuhnya tidak lagi diserang titik-titik air hujan. Ia mendongak dan mendapati seseorang tengah memayunginya. Satu lagi orang bodoh yang membiarkan dirinya kehujanan karena menggunakan payungnya untuk melindungi orang—makhluk lain.

“S- Sir?” sapa Illa kaget. Jelas ia mengenali siapa yang kini tengah berdiri membungkuk di belakangnya. Seorang staff akademi yang terlihat memakai pakaian kasual dan melindungi kepalanya dengan hoodie dari sweater yang di pakainya.

“Sedang apa kau?” Orang yang dipanggil Sir itu bertanya dingin.

“A- aku—“ Illa kebingungan. “Sir sendiri, sedang apa disini?”

“Aku baru selesai berolahraga dan menunggu hujan reda di kafe sana,” Sir Chandra—yang dikenal dengan jabatan K.A.G-nya—menunjuk sebuah kafe yang bersebelahan dengan fitness centre menggunakan dagunya. “Dan aku melihatmu berhujan-hujanan disini.”

“Ini,” Illa menunjuk anak anjing di dalam kardus. “Aku merasa kasihan karena dia kehujanan, jadi aku memberikan payungku dan—“

“Membiarkan dirimu kebasahan?”

Illa terdiam. Menunduk.

“Kau mau membawanya ke asrama?”

“Tidak.”

“Bagus, sepertinya kau belum lupa peraturan akademi.”

Illa mencibir. “Tentu saja. Walaupun sebenarnya aku ingin sekali membawanya.”

Sir Chandra melotot.

“Aku tahu, aku tahu. Lagipula aku sudah punya Cello—si burung hantu dan Fiel—si badak tak terlihat. Aku tidak yakin bisa mengurus mereka semua dengan baik jika aku membawa satu lagi peliharaan sebagai tanggunganku.” Illa mengalihkan pandangannya pada si anak anjing. “Sayang sekali ya, Puppy.” Ia kembali mengelus-elus tubuh basah anak anjing dalam kardus.

“Kenapa kau ingin sekali membawanya?” Sir Chandra bertanya penasaran. Matanya ikut memandangi si anak anjing yang tengah menjilati tangan Illa.

“Tidak ada alasan khusus sih. Dia lucu dan dia jelas dibuang. Kasihan sekali jika membiarkan dia tetap disini. Apalagi sekarang sedang hujan.”

“Kalau begitu, pindahkan saja ke tempat teduh. Seseorang akan mengambilnya jika mereka menyukaiya,” respon Sir Chandra enteng.

Aku juga menyukainya, jerit Illa dalam hati. Tapi alih-alih mengeluarkan isi pikirannya, Illa malah sibuk bermain-main dengan anak anjing yang dipanggilnya Puppy itu.

Sir Chandra ikut berjongkok di samping Illa. Membiarkan payung di tangannya melindungi mereka berdua dari tetes-tetes air hujan yang belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.

“Sampai kapan kau mau disini?”

“Sampai aku mau.”

 “Kau tidak jauh berbeda dengan anjing itu.”

Illa menoleh. Apa maksudnya?

“Kau lihatlah dirimu, kehujanan. Kau sama menyedihkannya seperti anjing itu.”

Illa melirik pakaiannya. Kaus hitam panjang dan roknya memang sudah cukup basah.

“Kau tidak mau pulang?”

“Sebentar lagi.”

“Menyerah sajalah. Kau tidak akan bisa membawanya sebagai peliharaanmu yang baru.”

“Aku tahu, aku tahu, Sir, aku tahu. Jadi biarkan saja aku disini selama apapun yang aku mau mengingat aku tidak bisa membawanya ke asrama dan bermain sebanyak apapun yang aku mau.”

“Kau menyukainya?”

“Iya.”

“Kau mau membawanya?”

“Kalau bisa.”

“Tapi kau tidak bisa.”

“Aku tahu.”

“Kurasa Maru membutuhkan teman bermain.”

“Eh?”

“Aku akan membeli kandang baru dan meletakkannya di samping kandang Maru. Kau boleh mengunjunginya sebanyak apapun yang kau mau, bermain dengannya selama apapun yang kau mau, dan merawatnya seperti binatang peliharaanmu sendiri.”

“S- Sir?”

“Kau, siswa, memang tidak boleh membawa binatang peliharaan dari luar. Tapi aku staff.”

“S- Sir!”

“Ayo kita pergi. Lipat saja payungmu, biar aku yang bawakan. Kau gendong anak anjing itu.”

Illa masih menatap Sir Chandra dengan pandangan berbinar-binar. Tidak menyangka pada kesediaan staff akademi itu untuk mengambil Puppy untuknya. Apa yang tadi itu benar diucapkan Sir Chandra?

“Cepatlah,” Sir Chandra menggerutu tak sabar.

“I- iya.”

Illa buru-buru melipat payungnya dan memberikannya pada Sir Chandra. Setelah itu ia menggendong Puppy dengan kedua tangan. Sementara kakinya mengikuti langkah kaki Sir Chandra, gadis dari asrama Thief itu tidak bisa berhenti tersenyum.

“Tunggu sebentar disini, aku akan mengambil tasku dan kita kembali ke akademi. Kita harus cepat mengganti pakaian kita yang basah ini. Tsk.” Sir Chandra berucap ketika keduanya sampai di depan kafe yang tadi menjadi tempat persinggahannya.

“Sir,” panggil Illa tepat sebelum Sir Chandra membuka pintu kafe.

“Ya?”

“Terimakasih.”

Sir Chandra tidak menjawab. Tapi ia sempat mengangguk pelan sebelum kakinya melangkah masuk ke dalam kafe. Tersenyum samar.
**

the weird writer: Rade

Tidak ada komentar:

Posting Komentar