From: Rakhmayanti Dewi's Note
=======================================================================
It's a beautiful night
We're looking for something dumb to do
Hey, baby, I think I wanna marry you
"KIDDO, TELEPON!"
Deringan ponsel yang terus menerus selama 5 menit terakhir membuat Val yang tengah berbaring diatas karpet berbulu ruang berkumpul--menghadapi kertas gambar dan pensil warna--berteriak kencang ke arah dapur--ditujukan untuk Kid yang sedang membuat ramen.
"DARI SIAPA?" Kid balas berteriak tanpa menampakkan wujudnya.
Val melirik sejenak ponsel Kid yang terletak di sampingnya. Mengecek nama sang penelpon.
"YOUR EX!"
Jangan heran. Begitu memang cara Val menyebut setiap nama perempuan yang kerap memenuhi panggilan masuk dan keluar di ponsel Kid. Gadis itu tidak tahu mana yang pernah benar-benar menjalin hubungan dengan Kid dan mana yang hanya sekedar dekat saja sebagai teman. Maka ia pun memukul rata panggilan pada semua gadis-gadis itu; mantan.
Kid keluar dari dapur membawa semangkuk ramen, meletakkannya dengan hati-hati di dekat Val. Ia meraih ponselnya, mengecek gadis mana yang disebut Val sebagai mantannya kali ini.
Kid baru akan menyantap ramennya ketika ponselnya berdering lagi.
It's a beautiful night
We're looking for something dumb to do
Hey, baby, I think I wanna marry you
"Kenapa tidak diangkat?" celetuk Val tanpa menoleh. Memberikan respon atas nada lagu yang terdengar nyaring tanpa henti.
"Kau tidak lihat aku sedang makan?" sindir Kid. Pria berdarah Jepang itu sengaja. Biasanya Val selalu marah-marah jika Kid makan dan memegang ponsel di waktu bersamaan.
Val mengangkat bahu. Enggan mendebat.
It's a beautiful night
Kid menekan tombol reject dan kemudian me-nonaktif-kan ponselnya. Setelahnya, ia berusaha fokus pada ramennya.
Hening. Hanya ada suara goresan pensil Val dan decakan Kid yang menikmati ramen.
"Dia bukan siapa-siapa," Kid buka suara setelah suapan ramen yang kesekian. Diam-diaman benar-benar tidak nyaman. Sama sekali bukan seperti Val dan Kid.
"Aku tidak bertanya," jawab Val santai.
"Aku tidak mau kau salah paham."
"Selama kau tidak berlaku mencurigakan."
"Aku dan gadis yang baru menelpon itu, kami memang pernah dekat."
"Oh."
"Kami hanya berteman sekarang."
"Kau dan aku juga awalnya berteman."
"Val, please."
"Apa?"
"Don't judge me."
"I said nothing."
"Tapi--"
"Jangan khawatir. Aku percaya padamu."
"Eh??"
"Kau tidak salah dengar. Aku percaya padamu. Kamu yang bodoh. Kau pikir untuk apa aku bertahan jika aku tidak percaya padamu? Menyiakan waktu saja. Sekarang, habiskan ramenmu dan terima telpon dari gadis itu. Dia menelponmu berulang-ulang, siapa tahu dia sedang butuh bantuan. Kalian berteman kan?"
Kid tersenyum miring menatap Val yang konstan berwajah datar. Ck, gadis ini.
**
Author: RaDe
=======================================================================
It's a beautiful night
We're looking for something dumb to do
Hey, baby, I think I wanna marry you
"KIDDO, TELEPON!"
Deringan ponsel yang terus menerus selama 5 menit terakhir membuat Val yang tengah berbaring diatas karpet berbulu ruang berkumpul--menghadapi kertas gambar dan pensil warna--berteriak kencang ke arah dapur--ditujukan untuk Kid yang sedang membuat ramen.
"DARI SIAPA?" Kid balas berteriak tanpa menampakkan wujudnya.
Val melirik sejenak ponsel Kid yang terletak di sampingnya. Mengecek nama sang penelpon.
"YOUR EX!"
Jangan heran. Begitu memang cara Val menyebut setiap nama perempuan yang kerap memenuhi panggilan masuk dan keluar di ponsel Kid. Gadis itu tidak tahu mana yang pernah benar-benar menjalin hubungan dengan Kid dan mana yang hanya sekedar dekat saja sebagai teman. Maka ia pun memukul rata panggilan pada semua gadis-gadis itu; mantan.
Kid keluar dari dapur membawa semangkuk ramen, meletakkannya dengan hati-hati di dekat Val. Ia meraih ponselnya, mengecek gadis mana yang disebut Val sebagai mantannya kali ini.
Kid baru akan menyantap ramennya ketika ponselnya berdering lagi.
It's a beautiful night
We're looking for something dumb to do
Hey, baby, I think I wanna marry you
"Kenapa tidak diangkat?" celetuk Val tanpa menoleh. Memberikan respon atas nada lagu yang terdengar nyaring tanpa henti.
"Kau tidak lihat aku sedang makan?" sindir Kid. Pria berdarah Jepang itu sengaja. Biasanya Val selalu marah-marah jika Kid makan dan memegang ponsel di waktu bersamaan.
Val mengangkat bahu. Enggan mendebat.
It's a beautiful night
Kid menekan tombol reject dan kemudian me-nonaktif-kan ponselnya. Setelahnya, ia berusaha fokus pada ramennya.
Hening. Hanya ada suara goresan pensil Val dan decakan Kid yang menikmati ramen.
"Dia bukan siapa-siapa," Kid buka suara setelah suapan ramen yang kesekian. Diam-diaman benar-benar tidak nyaman. Sama sekali bukan seperti Val dan Kid.
"Aku tidak bertanya," jawab Val santai.
"Aku tidak mau kau salah paham."
"Selama kau tidak berlaku mencurigakan."
"Aku dan gadis yang baru menelpon itu, kami memang pernah dekat."
"Oh."
"Kami hanya berteman sekarang."
"Kau dan aku juga awalnya berteman."
"Val, please."
"Apa?"
"Don't judge me."
"I said nothing."
"Tapi--"
"Jangan khawatir. Aku percaya padamu."
"Eh??"
"Kau tidak salah dengar. Aku percaya padamu. Kamu yang bodoh. Kau pikir untuk apa aku bertahan jika aku tidak percaya padamu? Menyiakan waktu saja. Sekarang, habiskan ramenmu dan terima telpon dari gadis itu. Dia menelponmu berulang-ulang, siapa tahu dia sedang butuh bantuan. Kalian berteman kan?"
Kid tersenyum miring menatap Val yang konstan berwajah datar. Ck, gadis ini.
**
Author: RaDe
Tidak ada komentar:
Posting Komentar