Note : I-ni se-di-kit di-u-bah da-ri ver-si as-li R-P-nya :v
**
Malam menjelang, bintang-bintang bermunculan dan bulan bersinar terang. Sesosok gadis tampak berdiri gelisah di dekat gerbang akademi. Berkali-kali ia melongokkan kepalanya ke belakang, memindai kehadiran seseorang yang ditunggu lewat retina matanya yang berwarna abu-abu. Ia melirik jam tangan di pergelangan tangan kirinya, sudah 15 menit berlalu sejak ia menyudahi percakapan telepon dengan seorang kawan asramanya. Seorang pemuda yang menyetujui ajakannya untuk menemaninya makan malam.
Gadis bernama lengkap Valencia Coffin yang berkebangsaan Inggris itu membatin kesal. Jika dalam lima menit pemuda itu tak kunjung datang, ia akan pergi sendiri.
Seperti bertelepati, sosok yang sedari tadi ditunggu Val akhirnya menampakkan wujud. Dari arah dalam, Kaito Kid melangkah santai menghampiri Val yang sudah siap memuntahkan amarahnya. Bukannya ia malas, hanya saja ia sedikit tidak mengerti pada ajakan Val. Kenapa harus dia? Kenapa harus makan di luar? Kenapa tidak makan di dalam saja? Toh di dapur asrama juga banyak makanan.
Langkah santai—terkesan malas—Kid mengundang reaksi Val. Gadis itu balik mendekati Kid dan menarik tangan si pemuda dengan tidak sabar. “Cepatlah, aku sudah lapar sekali.”
Terkejut karena mendapat tarikan tiba-tiba pada tangannya membuat Kid mau tak mau menyeimbangkan tubuhnya agar tidak terjungkal ke depan. Ia menghela napas panjang sebelum balas menggandeng tangan Val mesra.
“Kau mau makan apa? Kenapa harus makan di luar? Bukannya di dapur asrama banyak makanan?”
Kid tidak bermaksud apa-apa ketika ucapan itu keluar begitu saja dari mulutnya. Ia hanya sekedar bertanya, tidak lebih. Tapi ternyata kalimat yang dianggap hanya sebagai pertanyaan biasa bagi sang empunya itu mengundang reaksi berbeda dari gadis di sebelahnya. Val tiba-tiba menghentikan langkah, melepaskan tautan tangan mereka dan menatap Kid dengan kilatan sengit di matanya.
“Kau tidak mau menemaniku? Kenapa tidak bilang dari tadi? Sudahlah aku juga bisa pergi sendiri. Kau kembali saja sana.”
Bagian bawah dress putih selutut milik Val bergerak mengikuti langkah-langkah panjang sarat emosi setelah lontaran ucapannya. Meninggalkan Kaito Kid yang menatap aneh di balik punggungnya. Kid tidak paham bagian mana dari ucapannya yang menyinggung perasaan gadis itu, tapi sepertinya ia harus maklum, gadis itu memang akan menjadi sedikit lebih sensitif ketika lapar.
Kid melangkah cepat-cepat, berusaha menyusul Val yang sudah jauh di depannya. Ketika jarak diantara mereka sudah semakin menyempit, Kid melingkarkan tangannya pada pinggul Val secara tiba-tiba. Membuat gadis berambut ungu itu otomatis menghentikan langkahnya.
Kid memanfaatkan momen kekagetan Val dengan berbisik di telinga kanan gadis itu. “Jangan marah begitu, aku hanya bertanya saja.”
Val mematung. Bibirnya masih mengerucut. Ia meniup poninya kasar, sekedar menghilangkan rasa kesal yang terlanjur menjelma.
“Habis kau bicara begitu, seperti tidak ikhlas menemaniku,” ujar Val melunak.
“Aku ikhlas kok, tapi kau jangan seperti ini. Oke?” pinta Kid sambil mencubit sedikit pipi Val. “Jadi, kita mau makan dimana?”
Val melepaskan pelukan Kid dan ganti menggandeng tangan pemuda teman seasramanya itu. “Aku mau makan sate ayam. Kita ke Setra, bagaimana?”
Kid mengangguk menyetujui permintaan Val. Ia dan gadis itu melangkah beriringan dalam harmoni. Melewati setiap jarak dengan penuh suka cita. Secara otomatis Kid memimpin langkah, sementara Val mengekor setia. Mempercayakan langkahnya pada pemuda penghuni kamar nomor satu Sunrise itu. Sesekali Val kerepotan menyingkap helaian rambut panjangnya ke samping lehernya. Diam-diam gadis berambut ungu itu menyesali kealpaannya mengikat rambut akibat terkuasai rasa lapar beberapa saat lalu.
“Pak, tolong satenya dua porsi, pedas ya. Sekalian nasinya juga,” ucap Kid tanpa ragu ketika mereka sampai di sebuah tempat jajanan kaki lima paling terkenal di Setra. “Tahan pedas kan?”
Val menoleh pada Kid yang sudah mengatur tempat duduk untuk mereka berdua, menjawab pertanyaan pemuda itu dengan disertai senyuman. “Tentu.”
Setelah memastikan tempat duduknya nyaman, Val merogoh tas tangannya. Mengambil sebatang kayu semacam sumpit dan mulai menggulung rambutnya ke atas. Val tidak menyadari diam-diam Kid menelan ludah memandangi pose Val yang sedang menggulung rambut. Dimatanya, Val terlihat begitu mempesona.
“Cantik,” celetuk Kid tanpa sadar.
“Hm?” Val menoleh polos dengan tangan yang masih menggantung ketika dirasanya Kid mengucap sesuatu. “Kau bilang apa?”
Kid gelagapan ketika tertangkap basah tengah menatap Val tanpa berkedip.
“Anu, itu, satenya lama sekali ya,” jawab Kid asal sambil berusaha mengalihkan pandangan kemana saja.
Mendengar pernyataan Kid, gadis itu mengarahkan pandangannya pada sang penjual yang sibuk mengipasi sate di atas bara api. Kid lagi-lagi mencuri pandang. Dalam hati diam-diam ia membatin, seksi sekali gaya Val. Padahal gadis itu hanya menggulung rambut.
Val menurunkan tangannya tepat ketika rambutnya sudah tergulung sempurna.
“Sabar, mungkin sebentar lagi juga selesai,” ucap Val.
Tepat setelah Val berkata seperti itu, si penjual mulai memindahkan sate-sate yang sudah dibakar ke atas piring dan menyerahkannya pada Kid. Kid meletakkannya di atas meja, di tengah-tengah posisi antara dirinya dan Val. Sementara Val menerima piring lain berisi nasi yang disodorkan.
Val meletakkan masing-masing piring nasi di depannya dan di depan Kid. Dengan sigap ia menarik tissue di atas meja dan mengelap dua buah sendok sebelum meletakkannya ke atas piring nasi.
“Minumnya, mm, saya pesan kopi ya, Pak. Val, kau mau minum apa?” Kid melirik Val setelah mengucapkan pesanannya.
Val mendelik. Menghujani pemuda di sampingnya dengan tatapan tajam. “Kopi? Bagaimana bisa kau memesan kopi di tengah-tengah makan malam? Kau benar-benar pemilih yang buruk, Kiddo. Kalau kau mau minum kopi, biar nanti kubuatkan di dapur asrama. Sekarang, kau pilih saja, air mineral atau es teh manis?”
Bibir Kid sedikit mengerucut meski tak begitu terlihat. “Samakan saja denganmu.”
“Baiklah. Pak, yang kopi tadi batalkan saja ya. Kami pesan es teh manis. Dua,” ujar Val pada bapak-bapak penjual sate yang sedari tadi menunggu di samping mereka.
Val sedikit membenarkan posisi duduknya. Ia menghadapi piring-piring menggiurkan berisi makanan siap santap. Benar-benar tidak sabar lagi rasanya. “Ah, akhirnya. Ayo makan.”
Kurang dari satu menit Val dan Kid menunduk. Berdoa dalam hati. Doa sebelum makan. Kid terkekeh melihat Val yang dengan sigap mengambil langsung dua tusuk sate dan memisahkan antara daging ayam yang terbakar sempurna itu dari gagangnya dengan bantuan sendok.
“Pelan-pelan saja, nanti kau tersedak,” Kid memperingatkan.
Dan lagi-lagi Kid tidak bisa menyembunyikan rasa di dalam hatinya. Bahkan saat makanpun gadis ini terlihat cantik. Adakah saat dimana gadis ini tidak terlihat cantik? Mungkin tidak ada. Ah, mungkin ada tapi amat jarang sekali. Saking jarangnya, Kid bahkan tidak ingat lagi.
“Sudah kubilang aku lapar,” respon Val cuek menanggapi peringatan Kid. “Kau juga makanlah.”
Tangan Val bergerak memindahkan dua tusuk sate ke atas piring Kid. Membiarkan pria itu menikmati makan malam bersamanya.
“Ah, terimakasih,” ucap Val ramah pada penjual yang mengantarkan minuman pesanannya. Ia membagi tissue yang tadi digunakannya untuk mengelap sendok menjadi dua bagian dan meletakkannya di bawah masing-masing gelas es teh manis miliknya dan milik Kid. Mencegah agar titik-titik air yang nantinya menempel di bagian luar gelas tidak membanjiri meja mereka.
Keduanya makan dalam diam. Tidak benar-benar diam, hanya saja sangat jarang ucapan terlontar dari mulut keduanya. Val makan dengan nikmat, begitu juga dengan Kid. Hanya saja Val tidak tahu, selama keduanya menghabiskan makan, Kid terus saja mencuri-curi pandang ke arahnya.
Val meletakkan sendok dalam posisi terbalik di atas piringnya yang sudah kosong. Ia mengambil tissue dari atas meja dan mengelap mulutnya. Gadis periang itu mengakhiri makan malamnya dengan meminum es teh manis yang esnya mulai mencair.
“Sudah kenyang sekarang?”
Val menoleh pada Kid, masih dengan sedotan yang menempel di mulutnya. Membuat Kid lagi-lagi menelan ludahnya diam-diam.
“Sudah.” Val meletakkan gelasnya kembali ke atas meja.
“Kita pulang sekarang?” tanya Kid.
Val melirik jam tangannya. Jam sembilan malam. Mungkin sebaiknya mereka kembali ke akademi sekarang.
Setelah menyelesaikan pembayaran dengan bapak-bapak penjual sate, Kid kembali menggandeng tangan Val. Val menyambutnya dengan senang hati. Sepanjang jalan gadis itu tidak berhenti mengoceh. Bercerita, megomentari hal-hal, dan banyak lagi. Kid hanya sesekali menanggapi atau mengangguk-angguk menyetujui.
Kid menoleh heran pada Val yang tiba-tiba menghentikan langkah.
“Ada apa?” tanya Kid.
“Lolipop gula merah,” tunjuk Val pada penjual di samping kanannya. “Kau sudah pernah coba? Ini enak sekali.”
Kid menggeleng. Ia membiarkan saja Val melakukan transaksi. Tersenyum tipis melihat lima buah lollipop berpindah dari displayer ke tangan Val.
“Terimakasih,” ucap Val pada sang penjual yang tersenyum ramah.
Val membuka satu lollipop gula merah bertabur kacang yang baru dibelinya sebelum kembali menggandeng Kid.
“Kau mau?” Val menyodorkan satu batang lollipop dan menyimpan sisanya ke dalam tas.
Kid menyambut tawaran Val. Kini dua siswa akademi satu asrama itu berjalan dalam diam. Menikmati lollipop di mulut mereka masing-masing. Tak berapa lama kemudian, mereka berjalan melewati sebuah jembatan kayu di atas sungai kecil. Jembatan kayu yang terkesan sederhana, klasik dan cantik sekaligus. Atensi dua insan yang berjalan beriringan itu serempak tercuri ketika mendengar suara berdebum di udara sebelum kemudian langit Setra berwarna-warni cerah. Pesta kembang api.
Val dan Kid otomatis menghentikan langkah. Berdiri menghadap langit di kejauhan. Menikmati kecantikan warna-warni dan bentuk berbeda dari setiap kembang api yang meledak di udara.
“Cantik,” celetuk Val. Lolipopnya sudah habis dikunyah. Ia melemparkan batang lolipopnya ke tempat sampah terdekat.
Kid mengangguk di samping Val. Ia juga ikut mendongak bersama Val. Menikmati pesta kembang api.
“Memangnya itu kembang api darimana?” tanya Kid iseng.
“Entahlah. Mungkin Tesshu, mungkin Salvatore, mungkin Setra,” jawab Val.
Kid menarik batang lollipop dari mulutnya dengan cepat dan sigap, untuk menahan sisa-sisa gula merah bertabur kacang di dalam mulutnya. Ia membuang gagang lollipop ke tempat sampah.
“Kau tahulah, Tesshu kan banyak sekali festivalnya, Salvatore terkenal suka berpesta, dan Setra, mm, bisa dibilang banyak perayaan, atau ritual adat, atau apalah,” lanjut Val menerangkan.
Lagi-lagi Kid hanya bisa mengangguk. Selama beberapa menit keduanya terdiam seraya mendongak ke arah langit. Kid perlahan mendekati Val, merentangkan tangannya di sepanjang bahu Val, dan merangkul gadis itu dari samping.
Val bukannya tidak sadar, hanya saja kembang api yang meledak bergantian di hadapannya lebih menarik untuk diperhatikan.
“Cantik,” celetuk Kid.
Val mencibir. “Aku sudah bilang itu tadi. Kembang apinya memang cantik.”
“Bukan kembang apinya. Tapi kau.”
Val tersenyum tipis. Berusaha menampakkan wajah biasa saja padahal kedua pipinya sudah memerah.
“Lihat, kau tersipu.” Kid mencolek-colek pipi Val.
“Tidak. Ini blush-on.” Val menyangkal sambil menepis tangan Kid.
“Aku tahu kau tidak suka memakai make-up, Val.” Kid terkekeh.
Val melepaskan rangkulan Kid dan berbalik menyamping, menghindari tatapan Kid. Setidaknya sampai rona
merah di pipinya menghilang.
“Hey ya, apa yang sedang kau coba sembunyikan?” Kid menarik bahu Val, membuat gadis itu berhadapan dengannya. “Kau tahu, kau selalu terlihat cantik, apapun yang kau lakukan. Kau harus bersyukur untuk itu.”
Val mengerjap polos, berusaha terlihat biasa saja meski degup jantungnya yang di atas normal saat ini terus saja mengirimkan sinyal kemerahan ke pipinya. Val dapat merasakan pipinya mulai menghangat.
“Lihat, lihat, kau tersipu lagi.” Kid kembali terkekeh. Val memalingkan wajahnya, malu.
Kid menangkup pipi Val dengan kedua tangannya. Membuat iris abu-abu gadis itu bertemu langsung dengan mata Kid yang tengah menatapnya serius.
“Ingat ini, kau hanya boleh terlihat cantik di depanku. Hanya aku. Jangan sekali-kali mencoba untuk terlihat di depan pria lain. Jangan sekalipun.”
Val diam mendengarkan. Ia mengerucutkan bibir. Konyol sekali.
“Tapi mungkin agak susah untukmu. Kau terlahir cantik. Jadi bagaimana cara kita menyembunyikan kecantikanmu? Apa sebaiknya kau operasi plastik saja?”
Val tidak tahan untuk tidak terkekeh. Ia menggeplak belakang kepala Kid.
“Daripada disembunyikan, bagaimana kalau dilindungi saja. Ayolah, jangan menatapku seperti itu. Wajah sepertimu tentu mengundang banyak perhatian dari pria-pria yang bertebaran di seluruh Edentria, Val. Kau tentu tahu di dunia ini tidak semuanya baik. Jadi bagaimana jika nanti kau jatuh ke pelukan orang yang salah? Ini berbahaya.”
“Jangan bertele-tele, Kiddo. Kau ingin mengatakan apa sebenarnya?”
“Jadilah pacarku. Aku akan melindungimu.” Dengan suara rendahnya, kali ini Kid menghilangkan kesan main-main dari ucapannya.
Val tersenyum tipis. Topik ini lagi, pikirnya.
“I’m serious, Val. You know I’m serious.” Kid menatap dalam-dalam kedua bola mata Val. “I love you.”
Dan di tengah ledakan kembang api yang masih saja memenuhi langit di kejauhan, Kid mengecup bibir Val. Lembut dan lama. Keduanya menikmati rasa manis gula merah yang sebelumnya menguasai bibir mereka. Semanis gula merah, semanis rasa yang tercipta di masing-masing hati dua insan yang terbuai cinta.
**
Author: RaDe
**
Malam menjelang, bintang-bintang bermunculan dan bulan bersinar terang. Sesosok gadis tampak berdiri gelisah di dekat gerbang akademi. Berkali-kali ia melongokkan kepalanya ke belakang, memindai kehadiran seseorang yang ditunggu lewat retina matanya yang berwarna abu-abu. Ia melirik jam tangan di pergelangan tangan kirinya, sudah 15 menit berlalu sejak ia menyudahi percakapan telepon dengan seorang kawan asramanya. Seorang pemuda yang menyetujui ajakannya untuk menemaninya makan malam.
Gadis bernama lengkap Valencia Coffin yang berkebangsaan Inggris itu membatin kesal. Jika dalam lima menit pemuda itu tak kunjung datang, ia akan pergi sendiri.
Seperti bertelepati, sosok yang sedari tadi ditunggu Val akhirnya menampakkan wujud. Dari arah dalam, Kaito Kid melangkah santai menghampiri Val yang sudah siap memuntahkan amarahnya. Bukannya ia malas, hanya saja ia sedikit tidak mengerti pada ajakan Val. Kenapa harus dia? Kenapa harus makan di luar? Kenapa tidak makan di dalam saja? Toh di dapur asrama juga banyak makanan.
Langkah santai—terkesan malas—Kid mengundang reaksi Val. Gadis itu balik mendekati Kid dan menarik tangan si pemuda dengan tidak sabar. “Cepatlah, aku sudah lapar sekali.”
Terkejut karena mendapat tarikan tiba-tiba pada tangannya membuat Kid mau tak mau menyeimbangkan tubuhnya agar tidak terjungkal ke depan. Ia menghela napas panjang sebelum balas menggandeng tangan Val mesra.
“Kau mau makan apa? Kenapa harus makan di luar? Bukannya di dapur asrama banyak makanan?”
Kid tidak bermaksud apa-apa ketika ucapan itu keluar begitu saja dari mulutnya. Ia hanya sekedar bertanya, tidak lebih. Tapi ternyata kalimat yang dianggap hanya sebagai pertanyaan biasa bagi sang empunya itu mengundang reaksi berbeda dari gadis di sebelahnya. Val tiba-tiba menghentikan langkah, melepaskan tautan tangan mereka dan menatap Kid dengan kilatan sengit di matanya.
“Kau tidak mau menemaniku? Kenapa tidak bilang dari tadi? Sudahlah aku juga bisa pergi sendiri. Kau kembali saja sana.”
Bagian bawah dress putih selutut milik Val bergerak mengikuti langkah-langkah panjang sarat emosi setelah lontaran ucapannya. Meninggalkan Kaito Kid yang menatap aneh di balik punggungnya. Kid tidak paham bagian mana dari ucapannya yang menyinggung perasaan gadis itu, tapi sepertinya ia harus maklum, gadis itu memang akan menjadi sedikit lebih sensitif ketika lapar.
Kid melangkah cepat-cepat, berusaha menyusul Val yang sudah jauh di depannya. Ketika jarak diantara mereka sudah semakin menyempit, Kid melingkarkan tangannya pada pinggul Val secara tiba-tiba. Membuat gadis berambut ungu itu otomatis menghentikan langkahnya.
Kid memanfaatkan momen kekagetan Val dengan berbisik di telinga kanan gadis itu. “Jangan marah begitu, aku hanya bertanya saja.”
Val mematung. Bibirnya masih mengerucut. Ia meniup poninya kasar, sekedar menghilangkan rasa kesal yang terlanjur menjelma.
“Habis kau bicara begitu, seperti tidak ikhlas menemaniku,” ujar Val melunak.
“Aku ikhlas kok, tapi kau jangan seperti ini. Oke?” pinta Kid sambil mencubit sedikit pipi Val. “Jadi, kita mau makan dimana?”
Val melepaskan pelukan Kid dan ganti menggandeng tangan pemuda teman seasramanya itu. “Aku mau makan sate ayam. Kita ke Setra, bagaimana?”
Kid mengangguk menyetujui permintaan Val. Ia dan gadis itu melangkah beriringan dalam harmoni. Melewati setiap jarak dengan penuh suka cita. Secara otomatis Kid memimpin langkah, sementara Val mengekor setia. Mempercayakan langkahnya pada pemuda penghuni kamar nomor satu Sunrise itu. Sesekali Val kerepotan menyingkap helaian rambut panjangnya ke samping lehernya. Diam-diam gadis berambut ungu itu menyesali kealpaannya mengikat rambut akibat terkuasai rasa lapar beberapa saat lalu.
“Pak, tolong satenya dua porsi, pedas ya. Sekalian nasinya juga,” ucap Kid tanpa ragu ketika mereka sampai di sebuah tempat jajanan kaki lima paling terkenal di Setra. “Tahan pedas kan?”
Val menoleh pada Kid yang sudah mengatur tempat duduk untuk mereka berdua, menjawab pertanyaan pemuda itu dengan disertai senyuman. “Tentu.”
Setelah memastikan tempat duduknya nyaman, Val merogoh tas tangannya. Mengambil sebatang kayu semacam sumpit dan mulai menggulung rambutnya ke atas. Val tidak menyadari diam-diam Kid menelan ludah memandangi pose Val yang sedang menggulung rambut. Dimatanya, Val terlihat begitu mempesona.
“Cantik,” celetuk Kid tanpa sadar.
“Hm?” Val menoleh polos dengan tangan yang masih menggantung ketika dirasanya Kid mengucap sesuatu. “Kau bilang apa?”
Kid gelagapan ketika tertangkap basah tengah menatap Val tanpa berkedip.
“Anu, itu, satenya lama sekali ya,” jawab Kid asal sambil berusaha mengalihkan pandangan kemana saja.
Mendengar pernyataan Kid, gadis itu mengarahkan pandangannya pada sang penjual yang sibuk mengipasi sate di atas bara api. Kid lagi-lagi mencuri pandang. Dalam hati diam-diam ia membatin, seksi sekali gaya Val. Padahal gadis itu hanya menggulung rambut.
Val menurunkan tangannya tepat ketika rambutnya sudah tergulung sempurna.
“Sabar, mungkin sebentar lagi juga selesai,” ucap Val.
Tepat setelah Val berkata seperti itu, si penjual mulai memindahkan sate-sate yang sudah dibakar ke atas piring dan menyerahkannya pada Kid. Kid meletakkannya di atas meja, di tengah-tengah posisi antara dirinya dan Val. Sementara Val menerima piring lain berisi nasi yang disodorkan.
Val meletakkan masing-masing piring nasi di depannya dan di depan Kid. Dengan sigap ia menarik tissue di atas meja dan mengelap dua buah sendok sebelum meletakkannya ke atas piring nasi.
“Minumnya, mm, saya pesan kopi ya, Pak. Val, kau mau minum apa?” Kid melirik Val setelah mengucapkan pesanannya.
Val mendelik. Menghujani pemuda di sampingnya dengan tatapan tajam. “Kopi? Bagaimana bisa kau memesan kopi di tengah-tengah makan malam? Kau benar-benar pemilih yang buruk, Kiddo. Kalau kau mau minum kopi, biar nanti kubuatkan di dapur asrama. Sekarang, kau pilih saja, air mineral atau es teh manis?”
Bibir Kid sedikit mengerucut meski tak begitu terlihat. “Samakan saja denganmu.”
“Baiklah. Pak, yang kopi tadi batalkan saja ya. Kami pesan es teh manis. Dua,” ujar Val pada bapak-bapak penjual sate yang sedari tadi menunggu di samping mereka.
Val sedikit membenarkan posisi duduknya. Ia menghadapi piring-piring menggiurkan berisi makanan siap santap. Benar-benar tidak sabar lagi rasanya. “Ah, akhirnya. Ayo makan.”
Kurang dari satu menit Val dan Kid menunduk. Berdoa dalam hati. Doa sebelum makan. Kid terkekeh melihat Val yang dengan sigap mengambil langsung dua tusuk sate dan memisahkan antara daging ayam yang terbakar sempurna itu dari gagangnya dengan bantuan sendok.
“Pelan-pelan saja, nanti kau tersedak,” Kid memperingatkan.
Dan lagi-lagi Kid tidak bisa menyembunyikan rasa di dalam hatinya. Bahkan saat makanpun gadis ini terlihat cantik. Adakah saat dimana gadis ini tidak terlihat cantik? Mungkin tidak ada. Ah, mungkin ada tapi amat jarang sekali. Saking jarangnya, Kid bahkan tidak ingat lagi.
“Sudah kubilang aku lapar,” respon Val cuek menanggapi peringatan Kid. “Kau juga makanlah.”
Tangan Val bergerak memindahkan dua tusuk sate ke atas piring Kid. Membiarkan pria itu menikmati makan malam bersamanya.
“Ah, terimakasih,” ucap Val ramah pada penjual yang mengantarkan minuman pesanannya. Ia membagi tissue yang tadi digunakannya untuk mengelap sendok menjadi dua bagian dan meletakkannya di bawah masing-masing gelas es teh manis miliknya dan milik Kid. Mencegah agar titik-titik air yang nantinya menempel di bagian luar gelas tidak membanjiri meja mereka.
Keduanya makan dalam diam. Tidak benar-benar diam, hanya saja sangat jarang ucapan terlontar dari mulut keduanya. Val makan dengan nikmat, begitu juga dengan Kid. Hanya saja Val tidak tahu, selama keduanya menghabiskan makan, Kid terus saja mencuri-curi pandang ke arahnya.
Val meletakkan sendok dalam posisi terbalik di atas piringnya yang sudah kosong. Ia mengambil tissue dari atas meja dan mengelap mulutnya. Gadis periang itu mengakhiri makan malamnya dengan meminum es teh manis yang esnya mulai mencair.
“Sudah kenyang sekarang?”
Val menoleh pada Kid, masih dengan sedotan yang menempel di mulutnya. Membuat Kid lagi-lagi menelan ludahnya diam-diam.
“Sudah.” Val meletakkan gelasnya kembali ke atas meja.
“Kita pulang sekarang?” tanya Kid.
Val melirik jam tangannya. Jam sembilan malam. Mungkin sebaiknya mereka kembali ke akademi sekarang.
Setelah menyelesaikan pembayaran dengan bapak-bapak penjual sate, Kid kembali menggandeng tangan Val. Val menyambutnya dengan senang hati. Sepanjang jalan gadis itu tidak berhenti mengoceh. Bercerita, megomentari hal-hal, dan banyak lagi. Kid hanya sesekali menanggapi atau mengangguk-angguk menyetujui.
Kid menoleh heran pada Val yang tiba-tiba menghentikan langkah.
“Ada apa?” tanya Kid.
“Lolipop gula merah,” tunjuk Val pada penjual di samping kanannya. “Kau sudah pernah coba? Ini enak sekali.”
Kid menggeleng. Ia membiarkan saja Val melakukan transaksi. Tersenyum tipis melihat lima buah lollipop berpindah dari displayer ke tangan Val.
“Terimakasih,” ucap Val pada sang penjual yang tersenyum ramah.
Val membuka satu lollipop gula merah bertabur kacang yang baru dibelinya sebelum kembali menggandeng Kid.
“Kau mau?” Val menyodorkan satu batang lollipop dan menyimpan sisanya ke dalam tas.
Kid menyambut tawaran Val. Kini dua siswa akademi satu asrama itu berjalan dalam diam. Menikmati lollipop di mulut mereka masing-masing. Tak berapa lama kemudian, mereka berjalan melewati sebuah jembatan kayu di atas sungai kecil. Jembatan kayu yang terkesan sederhana, klasik dan cantik sekaligus. Atensi dua insan yang berjalan beriringan itu serempak tercuri ketika mendengar suara berdebum di udara sebelum kemudian langit Setra berwarna-warni cerah. Pesta kembang api.
Val dan Kid otomatis menghentikan langkah. Berdiri menghadap langit di kejauhan. Menikmati kecantikan warna-warni dan bentuk berbeda dari setiap kembang api yang meledak di udara.
“Cantik,” celetuk Val. Lolipopnya sudah habis dikunyah. Ia melemparkan batang lolipopnya ke tempat sampah terdekat.
Kid mengangguk di samping Val. Ia juga ikut mendongak bersama Val. Menikmati pesta kembang api.
“Memangnya itu kembang api darimana?” tanya Kid iseng.
“Entahlah. Mungkin Tesshu, mungkin Salvatore, mungkin Setra,” jawab Val.
Kid menarik batang lollipop dari mulutnya dengan cepat dan sigap, untuk menahan sisa-sisa gula merah bertabur kacang di dalam mulutnya. Ia membuang gagang lollipop ke tempat sampah.
“Kau tahulah, Tesshu kan banyak sekali festivalnya, Salvatore terkenal suka berpesta, dan Setra, mm, bisa dibilang banyak perayaan, atau ritual adat, atau apalah,” lanjut Val menerangkan.
Lagi-lagi Kid hanya bisa mengangguk. Selama beberapa menit keduanya terdiam seraya mendongak ke arah langit. Kid perlahan mendekati Val, merentangkan tangannya di sepanjang bahu Val, dan merangkul gadis itu dari samping.
Val bukannya tidak sadar, hanya saja kembang api yang meledak bergantian di hadapannya lebih menarik untuk diperhatikan.
“Cantik,” celetuk Kid.
Val mencibir. “Aku sudah bilang itu tadi. Kembang apinya memang cantik.”
“Bukan kembang apinya. Tapi kau.”
Val tersenyum tipis. Berusaha menampakkan wajah biasa saja padahal kedua pipinya sudah memerah.
“Lihat, kau tersipu.” Kid mencolek-colek pipi Val.
“Tidak. Ini blush-on.” Val menyangkal sambil menepis tangan Kid.
“Aku tahu kau tidak suka memakai make-up, Val.” Kid terkekeh.
Val melepaskan rangkulan Kid dan berbalik menyamping, menghindari tatapan Kid. Setidaknya sampai rona
merah di pipinya menghilang.
“Hey ya, apa yang sedang kau coba sembunyikan?” Kid menarik bahu Val, membuat gadis itu berhadapan dengannya. “Kau tahu, kau selalu terlihat cantik, apapun yang kau lakukan. Kau harus bersyukur untuk itu.”
Val mengerjap polos, berusaha terlihat biasa saja meski degup jantungnya yang di atas normal saat ini terus saja mengirimkan sinyal kemerahan ke pipinya. Val dapat merasakan pipinya mulai menghangat.
“Lihat, lihat, kau tersipu lagi.” Kid kembali terkekeh. Val memalingkan wajahnya, malu.
Kid menangkup pipi Val dengan kedua tangannya. Membuat iris abu-abu gadis itu bertemu langsung dengan mata Kid yang tengah menatapnya serius.
“Ingat ini, kau hanya boleh terlihat cantik di depanku. Hanya aku. Jangan sekali-kali mencoba untuk terlihat di depan pria lain. Jangan sekalipun.”
Val diam mendengarkan. Ia mengerucutkan bibir. Konyol sekali.
“Tapi mungkin agak susah untukmu. Kau terlahir cantik. Jadi bagaimana cara kita menyembunyikan kecantikanmu? Apa sebaiknya kau operasi plastik saja?”
Val tidak tahan untuk tidak terkekeh. Ia menggeplak belakang kepala Kid.
“Daripada disembunyikan, bagaimana kalau dilindungi saja. Ayolah, jangan menatapku seperti itu. Wajah sepertimu tentu mengundang banyak perhatian dari pria-pria yang bertebaran di seluruh Edentria, Val. Kau tentu tahu di dunia ini tidak semuanya baik. Jadi bagaimana jika nanti kau jatuh ke pelukan orang yang salah? Ini berbahaya.”
“Jangan bertele-tele, Kiddo. Kau ingin mengatakan apa sebenarnya?”
“Jadilah pacarku. Aku akan melindungimu.” Dengan suara rendahnya, kali ini Kid menghilangkan kesan main-main dari ucapannya.
Val tersenyum tipis. Topik ini lagi, pikirnya.
“I’m serious, Val. You know I’m serious.” Kid menatap dalam-dalam kedua bola mata Val. “I love you.”
Dan di tengah ledakan kembang api yang masih saja memenuhi langit di kejauhan, Kid mengecup bibir Val. Lembut dan lama. Keduanya menikmati rasa manis gula merah yang sebelumnya menguasai bibir mereka. Semanis gula merah, semanis rasa yang tercipta di masing-masing hati dua insan yang terbuai cinta.
**
Author: RaDe
Tidak ada komentar:
Posting Komentar