"Kei, mana Val?" Kid mencolek Keita yang tengah berebut potongan pizza dengan John.
"Di kamar," jawab Keita singkat tanpa menoleh.
"Sedang apa dia sendirian di kamar sementara semua orang berkumpul disini," gerutu Kid entah pada siapa. Ia meletakkan kaleng cola yang belum dibuka ke atas meja. Ia meraih ponsel di saku celananya dan men-dial nomor Val.
Setelah bersabar mendengar bunyi 'tuut' yang berulang sebanyak 8 kali, akhirnya telpon Kid diangkat.
"Ya?"
"Kenapa tidak keluar? Teman-teman sedang berpesta disini, ayo cepat kemari, banyak makanan. Kau pasti suka."
"..."
"Val?"
"Ya?"
"Suaramu serak begitu. Kau sakit?"
"Tidak."
"Jangan bohong."
"Mm, sedikit."
"Diam disitu. Jangan kemana-mana."
Klik. Kid memutuskan hubungan. Ia bergegas menuju tangga.
"Oi, Kid, mau kemana?" teriak John dengan mulut penuh pizza pada Kid yang sudah hampir sampai di puncak tangga.
"Sebentar!" Kid balas berteriak tanpa melambatkan langkahnya.
Sesampainya di depan kamar Val, Kid mengetuk pelan pintu kamar nomor tiga belas itu sebelum membukanya hati-hati.
"Val?"
"Eung." Val menjawab dengan lenguhan.
Kid mendekat pada ranjang Val, menjumpai gadis berambut ungu itu terbungkus selimut tebal. Hanya kepalanya saja yang terlihat.
"Apanya yang sakit?" tanya Kid lembut. Ia duduk di sisi ranjang Val.
"Aku tidak apa-apa. Hanya demam," jawab Val dengan suara serak. Gadis itu berusaha membuka matanya yang terus menerus ingin terpejam.
"Kau pasti kelelahan. Aku bilang apa soal istirahat dan menjaga kesehatan? Jangan terlalu memforsir tubuhmu."
"..."
"Sudah minum obat?" tanya Kid lagi.
"Aku belum makan," jawab Val susah payah. Seperti ada cairan pahit di tenggorokannya.
"Astaga, kau ini. Ya sudah biar aku belikan makanan dulu," ujar Kid sambil bangkit dari duduknya.
Sebelah tangan Val keluar dari selimut dan menahan lengan pemuda itu. "Tidak usah. Aku tidak apa-apa. Aku hanya perlu tidur sebentar lagi dan aku akan baik-baik saja."
"Tidak bisa, Val," Kid kembali duduk dan balik menggenggam tangan Val. "Kau harus minum obat. Jadi, diam saja disini sebentar dan aku akan membawakanmu makanan. Aku akan meminjam motor John dan kembali secepatnya."
"Tapi--"
"Jangan bawel. Pastikan saja kau tidak jatuh tertidur sebelum aku kembali."
*
Kid kembali tak berapa lama kemudian dengan plastik berisi bubur di tangannya. Ia berjalan pelan mendekati ranjang Val. Gadis itu sudah terlelap.
Melihat banyaknya keringat dingin yang keluar di sekitar wajah Val, Kid bergegas berlari ke dapur dan kembali dengan baskom berisi air yang akan digunakannya untuk mengompres kening Val.
"Eungh," Val melenguh gelisah ditandai dengan kernyitan di dahinya.
Kid segera menyelesaikan perasan pada saputangannya dan meletakkannya dalam keadaan terlipat di dahi Val. Ia merapikan anak rambut Val di sekitar pipinya yang menempel karena keringat.
"Eungh," sekali lagi Val melenguh. Entah karena ia tengah bermimpi buruk dalam tidurnya atau mungkin karena ia sedang merasakan sakit di tubuhnya.
Kid menelusupkan tangan lewat pinggiran selimut Val, menggenggam tangan si gadis bermarga Coffin itu erat. Berharap Val menyalurkan sakit yang dirasakannya.
Kid mengamati kernyitan di wajah Val yang perlahan-lahan mulai menghilang. Ia berkata dengan suara rendah, "Tak terhitung seberapa banyak aku berdoa pada Tuhan untuk bisa terbebas dari kecerewetanmu, dear. Tapi aku tidak pernah tahu kalau ternyata kesunyian itu tidak menyenangkan. Cepatlah sembuh. Aku merindukan radio rombeng kesayanganku."
Di akhir kalimatnya, Kid mengecup tangan Val yang berada dalam genggamannya.
**
Author: RaDe
"Di kamar," jawab Keita singkat tanpa menoleh.
"Sedang apa dia sendirian di kamar sementara semua orang berkumpul disini," gerutu Kid entah pada siapa. Ia meletakkan kaleng cola yang belum dibuka ke atas meja. Ia meraih ponsel di saku celananya dan men-dial nomor Val.
Setelah bersabar mendengar bunyi 'tuut' yang berulang sebanyak 8 kali, akhirnya telpon Kid diangkat.
"Ya?"
"Kenapa tidak keluar? Teman-teman sedang berpesta disini, ayo cepat kemari, banyak makanan. Kau pasti suka."
"..."
"Val?"
"Ya?"
"Suaramu serak begitu. Kau sakit?"
"Tidak."
"Jangan bohong."
"Mm, sedikit."
"Diam disitu. Jangan kemana-mana."
Klik. Kid memutuskan hubungan. Ia bergegas menuju tangga.
"Oi, Kid, mau kemana?" teriak John dengan mulut penuh pizza pada Kid yang sudah hampir sampai di puncak tangga.
"Sebentar!" Kid balas berteriak tanpa melambatkan langkahnya.
Sesampainya di depan kamar Val, Kid mengetuk pelan pintu kamar nomor tiga belas itu sebelum membukanya hati-hati.
"Val?"
"Eung." Val menjawab dengan lenguhan.
Kid mendekat pada ranjang Val, menjumpai gadis berambut ungu itu terbungkus selimut tebal. Hanya kepalanya saja yang terlihat.
"Apanya yang sakit?" tanya Kid lembut. Ia duduk di sisi ranjang Val.
"Aku tidak apa-apa. Hanya demam," jawab Val dengan suara serak. Gadis itu berusaha membuka matanya yang terus menerus ingin terpejam.
"Kau pasti kelelahan. Aku bilang apa soal istirahat dan menjaga kesehatan? Jangan terlalu memforsir tubuhmu."
"..."
"Sudah minum obat?" tanya Kid lagi.
"Aku belum makan," jawab Val susah payah. Seperti ada cairan pahit di tenggorokannya.
"Astaga, kau ini. Ya sudah biar aku belikan makanan dulu," ujar Kid sambil bangkit dari duduknya.
Sebelah tangan Val keluar dari selimut dan menahan lengan pemuda itu. "Tidak usah. Aku tidak apa-apa. Aku hanya perlu tidur sebentar lagi dan aku akan baik-baik saja."
"Tidak bisa, Val," Kid kembali duduk dan balik menggenggam tangan Val. "Kau harus minum obat. Jadi, diam saja disini sebentar dan aku akan membawakanmu makanan. Aku akan meminjam motor John dan kembali secepatnya."
"Tapi--"
"Jangan bawel. Pastikan saja kau tidak jatuh tertidur sebelum aku kembali."
*
Kid kembali tak berapa lama kemudian dengan plastik berisi bubur di tangannya. Ia berjalan pelan mendekati ranjang Val. Gadis itu sudah terlelap.
Melihat banyaknya keringat dingin yang keluar di sekitar wajah Val, Kid bergegas berlari ke dapur dan kembali dengan baskom berisi air yang akan digunakannya untuk mengompres kening Val.
"Eungh," Val melenguh gelisah ditandai dengan kernyitan di dahinya.
Kid segera menyelesaikan perasan pada saputangannya dan meletakkannya dalam keadaan terlipat di dahi Val. Ia merapikan anak rambut Val di sekitar pipinya yang menempel karena keringat.
"Eungh," sekali lagi Val melenguh. Entah karena ia tengah bermimpi buruk dalam tidurnya atau mungkin karena ia sedang merasakan sakit di tubuhnya.
Kid menelusupkan tangan lewat pinggiran selimut Val, menggenggam tangan si gadis bermarga Coffin itu erat. Berharap Val menyalurkan sakit yang dirasakannya.
Kid mengamati kernyitan di wajah Val yang perlahan-lahan mulai menghilang. Ia berkata dengan suara rendah, "Tak terhitung seberapa banyak aku berdoa pada Tuhan untuk bisa terbebas dari kecerewetanmu, dear. Tapi aku tidak pernah tahu kalau ternyata kesunyian itu tidak menyenangkan. Cepatlah sembuh. Aku merindukan radio rombeng kesayanganku."
Di akhir kalimatnya, Kid mengecup tangan Val yang berada dalam genggamannya.
**
Author: RaDe
Tidak ada komentar:
Posting Komentar