Kaget. Aku terbangun dan mendapati pria itu duduk nyaman di sisi ranjangku, tepat di samping kepalaku.
"Selamat pagi."
Licik. Bagaimana bisa dia tersenyum cerah begitu sementara aku kesulitan melewati hari tanpa bertemu dengannya?
Aku memunggunginya, menarik selimutku sampai menutupi kepala.
"Tidak ada pelukan selamat pagi untukku?"
Gila. Kenapa percaya dirinya tinggi sekali? Siapa bilang dia akan disambut dengan ramah setelah menghilang berhari-hari? Ralat, berminggu-minggu. 3 minggu 3 hari tepatnya.
"Darl?"
Aku menimbang-nimbang di dalam selimutku. Brengsek. Pada akhirnya aku bangkit juga, duduk tepat di sebelahnya.
"Maaf, anda siapa ya?"
Aku yakin aku sudah memasang tampang sedatar mungkin juga tatapan tajam yang diarahkan langsung ke wajahnya, tapi dia malah terkekeh lucu. Sebal.
"Darl."
Aku menghela napas. Juga memalingkan wajah. Brengsek. Brengsek, brengsek, brengsek. Aku membenci pria ini. Sangat. Tapi di saat yang bersamaan aku juga merindukannya. Wajahnya, suaranya, aroma tubuhnya-- sial.
"Aku tahu, kau marah padaku. Maaf."
Lagi-lagi, percaya diri sekali orang ini. Dia pikir aku akan memaafkannya dengan mudah hanya dengan satu kata maaf? Setelah ia sibuk sendiri dengan dunianya dan mengabaikanku? Setelah ia membuatku mencari-cari alasan untuk tetap sibuk agar tak merasa kesepian? Setelah ia membuatku menangis diam-diam sepanjang malam? Please.
"Darl."
Aku masih disini. Duduk disampingnya yang tengah berusaha membujukku. Tidak berniat sama sekali untuk menoleh. Jika kau belum lupa, tuan, aku pendendam.
"Kau tidak mau memaafkanku?"
Menurutmu?
"Darl, ayolah. Aku tahu aku salah. Maaf."
Sial. Rasa sesak ini datang lagi. Rasa sesak yang membuatku harus menangis diam-diam di malam hari kembali memenuhi rongga dadaku. Seperti yang sudah-sudah, berakibat pada air mata yang menggenang di pelupuk mataku.
"Darl."
Bagus. Tanpa diperintah, satu persatu tetes-tetes air mata mulai bergulir melewati pipiku. Sebegitu rindunyakah aku pada pria berlabel kekasihku ini?
Dengan sigap, pria itu membawaku ke dalam pelukannya, membiarkan aku membasahi baju kerjanya.
"Kamu jahat." Aku bersuara di tengah isakanku. Persetan dengan suaraku yang bergetar.
"Maaf."
"Kamu bodoh."
"Maaf."
"Kamu brengsek."
"Maaf."
"Aku merindukanmu."
"Aku tahu. Maaf. Aku juga merindukanmu."
Bodoh.
"Selamat pagi."
Licik. Bagaimana bisa dia tersenyum cerah begitu sementara aku kesulitan melewati hari tanpa bertemu dengannya?
Aku memunggunginya, menarik selimutku sampai menutupi kepala.
"Tidak ada pelukan selamat pagi untukku?"
Gila. Kenapa percaya dirinya tinggi sekali? Siapa bilang dia akan disambut dengan ramah setelah menghilang berhari-hari? Ralat, berminggu-minggu. 3 minggu 3 hari tepatnya.
"Darl?"
Aku menimbang-nimbang di dalam selimutku. Brengsek. Pada akhirnya aku bangkit juga, duduk tepat di sebelahnya.
"Maaf, anda siapa ya?"
Aku yakin aku sudah memasang tampang sedatar mungkin juga tatapan tajam yang diarahkan langsung ke wajahnya, tapi dia malah terkekeh lucu. Sebal.
"Darl."
Aku menghela napas. Juga memalingkan wajah. Brengsek. Brengsek, brengsek, brengsek. Aku membenci pria ini. Sangat. Tapi di saat yang bersamaan aku juga merindukannya. Wajahnya, suaranya, aroma tubuhnya-- sial.
"Aku tahu, kau marah padaku. Maaf."
Lagi-lagi, percaya diri sekali orang ini. Dia pikir aku akan memaafkannya dengan mudah hanya dengan satu kata maaf? Setelah ia sibuk sendiri dengan dunianya dan mengabaikanku? Setelah ia membuatku mencari-cari alasan untuk tetap sibuk agar tak merasa kesepian? Setelah ia membuatku menangis diam-diam sepanjang malam? Please.
"Darl."
Aku masih disini. Duduk disampingnya yang tengah berusaha membujukku. Tidak berniat sama sekali untuk menoleh. Jika kau belum lupa, tuan, aku pendendam.
"Kau tidak mau memaafkanku?"
Menurutmu?
"Darl, ayolah. Aku tahu aku salah. Maaf."
Sial. Rasa sesak ini datang lagi. Rasa sesak yang membuatku harus menangis diam-diam di malam hari kembali memenuhi rongga dadaku. Seperti yang sudah-sudah, berakibat pada air mata yang menggenang di pelupuk mataku.
"Darl."
Bagus. Tanpa diperintah, satu persatu tetes-tetes air mata mulai bergulir melewati pipiku. Sebegitu rindunyakah aku pada pria berlabel kekasihku ini?
Dengan sigap, pria itu membawaku ke dalam pelukannya, membiarkan aku membasahi baju kerjanya.
"Kamu jahat." Aku bersuara di tengah isakanku. Persetan dengan suaraku yang bergetar.
"Maaf."
"Kamu bodoh."
"Maaf."
"Kamu brengsek."
"Maaf."
"Aku merindukanmu."
"Aku tahu. Maaf. Aku juga merindukanmu."
Bodoh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar