Sabtu, 02 November 2013

Valkid----Punishment

“Brengsek.”

Suara yang dipantulkan ruangan kosong itu terdengar begitu nyaring membelah kesunyian sore hari di akademi. Seorang siswa yang masih berseragam lengkap tampak setengah hati membersihkan sekitar aula serbaguna yang jarang digunakan para penghuni akademi.
Ia melemparkan tangkai alat pel begitu saja dan menendang ember di dekat kakinya pelan. Ia menjatuhkan diri, mengendorkan ikatan dasinya dan menghela napas kasar.

13.40

“Oh, sudah kembali?” tanya Keita pada Kid yang mendudukkan diri di sampingnya.

Tidak ada jawaban dari Kid. Yang ditanya malah melemparkan pandangan ke luar jendela.

“Ada apa denganmu? Mood-mu masih buruk bahkan setelah kau membolos sepanjang pelajaran pertama untuk tidur?” lanjut Keita.

Kid masih konstan menutup mulut.

Keita mengangguk paham, mengambil kesimpulan sendiri. “Kau belum tidur ya? Atau tidurmu belum puas? Tulisan MENGANTUK terlihat jelas di dahimu itu, kau tahu,” ejek Keita. “Jadi, siapa yang memaksamu bangun? Para petugas magang di UKS?”

“Kau berisik sekali, Kei.”

Bibir Keita mengerucut. Ia tahu Kid sedang tidak dalam kondisi yang baik. Ia tidak berniat memperpanjang urusan. Dengan cepat Keita bangkit dari tempat duduknya dan beralih menuju meja Stephen Wei. Setidaknya mulut pedas si sipit lebih baik daripada sifat rollercoaster Kid pada saat mood-nya buruk.

Val masuk dengan langkah terburu-buru dan langsung menarik kursi kosong yang ditinggalkan Keita mendekat pada Kid.

“Kau baik-baik saja?”

Kid menolak menjawab. Ia tetap menatap keluar jendela.

“Kiddo, jawab aku. Apa kau baik-baik saja?”

Kid menoleh malas. Balas memandang Val yang menatapnya khawatir.

“Aku sudah meminta PA Hyo untuk memisahkan tempat hukuman untuk kalian berdua. Aku khawatir nantinya kalian akan lanjut berkelahi. Dia dihukum membersihkan toilet, jadi kau tidak akan bertemu dengannya lagi.”

Kid masih saja diam. Alih-alih merespon Val, ia kembali menatap jendela.

“Tenangkan dirimu dulu,” ucap Val pelan. “Aku tidak bisa menemanimu sore nanti, aku ada jadwal magang.”

Selepas berkata begitu, Val kembali ke tempat duduknya, bergabung bersama Ran dan Watson yang sedang menyelesaikan soal-soal Fisika. Sementara Kid membuang napasnya berat. Lagi.
___

Kid menggosok-gosokkan handuk pada rambutnya yang basah. Setelah menyelesaikan hukumannya, ia langsung mandi untuk menyingkirkan semua keringat dari badannya. Kid duduk di pinggiran tempat tidur, mengecek layar ponsel-nya. Tidak ada pesan ataupun panggilan telepon dari Val. Belum pulang kah dia?

Pintu kamar membuka, terlihat John Freeze mendorong kenop sambil melambai pada seseorang di luar. “Baru pulang?”

“Iya,” sambut suara riang seseorang dari luar. Tak lama kemudian terdengar langkah menaiki tangga menuju lantai dua. Jika Kid tidak salah dengar, dia amat mengenali suara yang baru menjawab sapaan John. Dia, gadis itu.

“Oh, astaga, panas sekali,” ucap John begitu ia memasuki kamar. Ia melepas kaosnya dan melempar sembarang ke tempat tidurnya. “Kau sudah mandi?”

“Sudah,” jawab Kid singkat ketika John melewatinya dan masuk ke kamar mandi. Ia beranjak menuju meja, menyalakan laptopnya. Kid memandangi layar laptopnya yang belum menyala sempurna dan—sialnya—kejadian tadi siang berkelebat kembali dalam pantulan bayangan di depannya.

 12.15

“Kiddo, kau di dalam?” Val melongok dari pintu ruang UKS yang sedikit dibukanya. Tadi pagi ia dan Kid berbeda kelas. Dan saat ia tidak menjumpai Kid di kantin ketika makan siang, ia bertanya pada Joe yang langsung memberitahu Val kemana Kid membolos pagi ini.

Val melangkah masuk dengan hati-hati. Berniat mengagetkan Kid yang mungkin saja masih tertidur. Val hanya tinggal menyibak tirai untuk mencapai tempat Kid terbaring ketika tiba-tiba ia berbalik karena mendengar pintu terbuka. Seseorang yang dikenalinya sebagai siswa level atas masuk dan langsung mendekati Val agresif.

 “Valencia Coffin?” tanyanya pada Val.

Val bersiaga. Laki-laki di depannya mempersempit jarak di antara mereka. “Iya. Ada apa?”

“Tepat sekali rumor yang beredar di akademi ini, dear. Kau cantik, juga manis.” Pemuda itu berucap seduktif seraya meraih helai-helai rambut Val dengan tangannya.

“Jauhkan tanganmu!” Val menepis tangan laki-laki yang semakin mendekat padanya, membuat punggung gadis itu membentur lemari obat.

“Galak sekali. Aku jadi bertanya-tanya, apakah bibirmu semanis parasmu?” Kali ini jari-jari si pemuda dengan tinggi sekitar 180cm itu bergerilya di bibir pink milik Val.

“Brengsek!” Val berniat menampar pipi pria di hadapannya tapi dengan cepat pria itu mencekal kedua tangannya.

“Jangan berulah, nona manis, nikmati saja. Aku janji tidak akan mengasarimu.”

Pria itu mengunci kedua tangan Val dengan satu tangan sementara tangan yang satunya digunakan untuk memegangi kepala Val, agar gadis itu tidak bergerak saat ia menciumnya.

Dugh! Brak!

Sebuah tinju kasar dilayangkan ke pipi pemuda yang mencekal Val. Entah seberapa besar kekuatan dibalik tinju tersebut sampai-sampai membuatnya terjungkal ke belakang, membentur meja petugas UKS.

“Ki- Kiddo?” Val menatap laki-laki yang berdiri di hadapannya dengan napas naik turun menahan emosi.

Kid mengacuhkan Val, ia bergerak maju. Menarik kerah baju sang lawan yang masih terduduk di lantai. Beberapa kali ia layangkan tinjunya pada muka pria menjijikan yang berani mengganggu gadisnya.

Pria yang entah siapa namanya itu mendecih. Ia mengelap darah di ujung bibirnya menggunakan punggung tangan.

“Wah, Tuan Kaito Kid. Tak sengaja lewat kah?”

Kid merapatkan giginya, mengirimkan sinyal tak main-main lewat matanya.

“Ah, aku lupa, kau memang sering dijuluki pahlawan kesiangan bukan? Tak heran kau suka mencampuri urusan orang lain.”

“Dia bukan orang lain.”

“Pacarmu kah? Haha, jangan bercanda.”
Tatapan matanya pada Kid berubah tajam. Dengan satu hentakan cepat ia menerjang, berniat membalas pukulan yang dilayangkan Kid padanya.

Tepat sebelum tinju kasar laki-laki itu menyapa pipi Kid, pintu ruang UKS membuka. Memperlihatkan sosok PA Hyo yang membawa beberapa obat untuk persediaan di UKS. Wanita muda itu melihat tinju yang tergantung di udara, tidak butuh waktu lama baginya untuk mencerna apa yang sedang terjadi.

“Aku beritahu pada kalian ya, anak-anak, UKS itu tempat untuk merawat orang sakit. BUKAN UNTUK BERKELAHI! KALIAN BERTIGA, IKUT AKU SEKARANG!”
___

Ia tidak ingat kapan dan bagaimana caranya ia berada disini, tepat di depan sebuah pintu kamar bertuliskan nomor tigabelas. Kid menghela napas sekali sebelum mengetuk.

“Ya?” sambut suara di dalam.

Tidak berapa lama kemudian, muncul sosok yang ingin di temui Kid—Valencia Coffin, masih dengan baju seragam sekolahnya.

“Masuklah.” Val membuka pintu lebar-lebar, membiarkan Kid masuk. Kemudian ia beralih pada tasnya, mengambil bungkusan dari sana. “Kau baik-baik saja? Kau sudah makan belum? Ini aku bawakan sup seafood untukmu. Kau tahu, sup seafood dari kedai langganan kita di Tesshu, yang kau bilang enak. Sebentar biar kupanaskan dulu di dapur. Kau mau makan dimana? Disini, di dapur atau dikamarmu? Biar nanti kuantarkan.”

Kid menahan lengan Val yang hendak beranjak menuju pintu. Val menghentikan langkah, menatap wajah sendu pria yang duduk di kursi meja belajarnya.

“Aku mau bicara.”

“Bicaralah.”

Kid berdehem sekali. Membersihkan tenggorokannya. “Kejadian di UKS—“

Val menanti kata yang keluar dari mulut Kid berikutnya meski sebenarnya ia tidak mau peristiwa tadi siang diungkit kembali.

“Apa jadinya kalau aku tidak sedang berada disana?”

“Aku—mm—mungkin berteriak?”

Kid mendecak. “Aku serius, Val. Kejadian seperti tadi siang—aku—aku tidak akan bisa memaafkan diriku jika kejadian seperti tadi siang terulang kembali.”

Val duduk di ujung tempat tidurnya, berhadapan dengan Kid. “Kurasa sudah saatnya aku mengambil kelas beladiri tambahan.”

“Ya, kau perlu. Dan—“

“Dan?”

“Dan berpacaranlah denganku.”

Val terkekeh, menatap Kid yang sedang menatapnya dengan sungguh-sungguh. “Kenapa?”

“Supaya siapapun yang ingin mendekatimu akan berpikir dua kali. Dan berpikir ribuan kali untuk mengganggumu. Atau pun mencoba untuk—ehm—mencicipi bibirmu.”

Val mengernyitkan dahi tanda tak mengerti tapi kemudian ia mengangguk-angguk paham. “Ah, karena reputasi ‘gangster’-mu?”

“Kau tau aku bukan gangster.”

“Jadi apa sebutan yang tepat untuk seseorang yang suka menggunakan tinjunya?”

“Terserahlah. Lupakan saja kalau kau tidak tertarik.” Kid bangkit dan berjalan menuju pintu. Sebelah tangannya memegang kenop pintu saat Val menahan lengannya yang lain.

“Aku tahu kau khawatir padaku, terimakasih. Dan untuk melindungiku tadi siang, terimakasih.”

“Dan?” pancing Kid.

“Hm? Dan?” Val balik bertanya dengan bingung.

Kid menggerakkan tangannya menutup pintu. “Dan jangan biarkan sekali-kali siapapun menyentuh bibirmu.”

Tubuh Val tertarik ke depan saat Kid mengunci pinggangnya. “Kau harus bisa menjaga dirimu dengan baik. Karena kau adalah satu-satunya alasanku untuk menjadi lebih kuat. Agar aku bisa melindungimu sebaik aku melindungi diriku sendiri.”

Dan segala letih dan kekesalan yang bertahan seharian di tubuh Kid, lenyap begitu saja begitu bibirnya menyentuh bibir Val.
Author: RaDe 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar