Oh baby I'll take you to the sky
Forever you and I, you and I
Val melirik si sumber suara--handphone putihnya berkedip-kedip manis di samping buku-buku yang tersusun di atas meja. Ia mengusap layarnya dengan jari telunjuk dan menekan ikon speakerphone setelah hubungan tersambung.
"Kau dimana?"
Gadis itu bahkan belum mengucapkan salam pada sang penelpon. Tapi nada tergesa yang terdengar dari handphone-nya membuat Val menghela napas maklum.
"Di perpustakaan," jawab Val.
"Perpustakaan? Sedang apa disana malam-malam begini?"
Val baru akan menjawab ketika suara si pria di seberang terdengar lagi.
"Diam disitu. Jangan kemana-mana."
Tuut.. Tuut.. Tuut..
"Ya, ya, ya, baiklah."
Val bermonolog sementara tangannya yang memegang bolpoin kembali menari di atas kertas.
*
Kaito Kid menampakkan diri di depan Val lima menit kemudian. Ia berdiri di samping Val yang masih menunduk menghadapi pekerjaannya. Sedikit mengintip torehan Val pada kertasnya.
"Tugas Bahasa Inggris? Bukannya baru dikumpulkan dua minggu lagi?" Kid mengernyit sementara kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya.
"Aku bosan di kamar," jawab Val singkat tanpa menoleh.
"Ck." Kid berdecak. Ia menduduki kursi di samping Val. "Kau sudah makan?"
"Hm?" Val menghentikan gerakan menulisnya. Pertanyaan Kid membuatnya berpikir.
"Belum?" tanya Kid lagi.
"Mm, sepertinya begitu," jawab Val santai. "Heish, singkirkan tanganmu, bodoh."
Val menepis jari telunjuk Kid yang menusuk-nusuk sebelah pipinya. Tapi bukan Kid namanya jika langsung menurut.
"Kiddo.."
"Ini hukuman."
"Hukuman apa?"
"Karena lupa makan."
"Mana ada. Lagipula aku belum lapar."
Kid menusuk pipi Val lebih dalam.
"Hei! Sakit!"
"Cepat bereskan," titah Kid tanpa berhenti mencolek-colek pipi Val.
"Kenapa?"
"Jangan membantah. Jam makan malam bahkan sudah lewat, Val."
"Lalu?"
"Kau mau jalan sendiri atau ku gendong sampai ke tempat makan?"
Val memutar bola matanya. "Baiklah, baiklah. Tunggu aku membereskan ini dulu."
"Satu.. Dua.. Tiga.. Aku tidak suka menunggu, Val. Tujuh.. Delapan.. Sembilan.."
Kid mengamati gerakan jarum pada jam tangannya. Detik demi detiknya.
"Ah, sialan kau, Kaito Kid. Paling tidak bantu aku. Jangan hanya tahu bicara saja."
Val menerjang Kid dari belakang. Mengalungkan kedua lengannya di sekitar leher pemuda itu dan berpura-pura memitingnya.
"Haha, Val, ampun, Val, ampun, aduh, haha."
"Tidak. Ini hukuman. Haha."
Tawa berderai dua insan yang terkait takdir itu menggaung di ruang perpustakaan yang senyap.
**
Author: RaDe
Forever you and I, you and I
Val melirik si sumber suara--handphone putihnya berkedip-kedip manis di samping buku-buku yang tersusun di atas meja. Ia mengusap layarnya dengan jari telunjuk dan menekan ikon speakerphone setelah hubungan tersambung.
"Kau dimana?"
Gadis itu bahkan belum mengucapkan salam pada sang penelpon. Tapi nada tergesa yang terdengar dari handphone-nya membuat Val menghela napas maklum.
"Di perpustakaan," jawab Val.
"Perpustakaan? Sedang apa disana malam-malam begini?"
Val baru akan menjawab ketika suara si pria di seberang terdengar lagi.
"Diam disitu. Jangan kemana-mana."
Tuut.. Tuut.. Tuut..
"Ya, ya, ya, baiklah."
Val bermonolog sementara tangannya yang memegang bolpoin kembali menari di atas kertas.
*
Kaito Kid menampakkan diri di depan Val lima menit kemudian. Ia berdiri di samping Val yang masih menunduk menghadapi pekerjaannya. Sedikit mengintip torehan Val pada kertasnya.
"Tugas Bahasa Inggris? Bukannya baru dikumpulkan dua minggu lagi?" Kid mengernyit sementara kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya.
"Aku bosan di kamar," jawab Val singkat tanpa menoleh.
"Ck." Kid berdecak. Ia menduduki kursi di samping Val. "Kau sudah makan?"
"Hm?" Val menghentikan gerakan menulisnya. Pertanyaan Kid membuatnya berpikir.
"Belum?" tanya Kid lagi.
"Mm, sepertinya begitu," jawab Val santai. "Heish, singkirkan tanganmu, bodoh."
Val menepis jari telunjuk Kid yang menusuk-nusuk sebelah pipinya. Tapi bukan Kid namanya jika langsung menurut.
"Kiddo.."
"Ini hukuman."
"Hukuman apa?"
"Karena lupa makan."
"Mana ada. Lagipula aku belum lapar."
Kid menusuk pipi Val lebih dalam.
"Hei! Sakit!"
"Cepat bereskan," titah Kid tanpa berhenti mencolek-colek pipi Val.
"Kenapa?"
"Jangan membantah. Jam makan malam bahkan sudah lewat, Val."
"Lalu?"
"Kau mau jalan sendiri atau ku gendong sampai ke tempat makan?"
Val memutar bola matanya. "Baiklah, baiklah. Tunggu aku membereskan ini dulu."
"Satu.. Dua.. Tiga.. Aku tidak suka menunggu, Val. Tujuh.. Delapan.. Sembilan.."
Kid mengamati gerakan jarum pada jam tangannya. Detik demi detiknya.
"Ah, sialan kau, Kaito Kid. Paling tidak bantu aku. Jangan hanya tahu bicara saja."
Val menerjang Kid dari belakang. Mengalungkan kedua lengannya di sekitar leher pemuda itu dan berpura-pura memitingnya.
"Haha, Val, ampun, Val, ampun, aduh, haha."
"Tidak. Ini hukuman. Haha."
Tawa berderai dua insan yang terkait takdir itu menggaung di ruang perpustakaan yang senyap.
**
Author: RaDe
Tidak ada komentar:
Posting Komentar